26 C
Sidoarjo
BerandaNasionalCerita di balik citra glamor para kreator konten #infoMenarik

Cerita di balik citra glamor para kreator konten #infoMenarik


JAKARTA (PortalSidoarjo.com) – Layar media sosial bak panggung adu pesona para kreator untuk pamer beragam konten demi menggaet banyak audiens serta meraih cuan. Untuk dapat berjaya di linimasa, ada perjuangan sangat keras di sana, yang membutuhkan konsistensi dalam produksi, terlibat persaingan antarpemain, menghadapi permainan algoritma, serta kuasa platform yang rumit. 

Di balik citra glamor yang dipertontonkan, ada potensi depresi mengancam para kreator, tetapi itu dapat dilewati jika mereka mampu menyingkirkan ambisi.

Pada momen perayaan Hari Anak Nasional (HAN) di Pekanbaru, Riau, Presiden Joko Widodo mengajak berdialog seorang siswa kelas VI SDN 36 Pekanbaru bernama Rafia Fadila.

“Saya mau bertanya pada Rafi, cita-citanya mau jadi apa?” tanya Jokowi.

“Jadi YouTuber, Pak,” kata Rafi, spontan serta mantap, disambut riuh anak-anak yang hadir.

“Pasti senang main YouTube ini, senang main medsos,” kata Presiden.

Jokowi kemudian menanyakan apa alasan bocah itu ingin menjadi YouTuber.

“Jadi YouTuber itu kalau banyak subscriber-nya, dapat menghasilkan uang,” ujar Rafi.

Presiden pun mengatakan, setiap anak-anak boleh bercita-cita apa saja, asal baik serta diiringi dengan semangat belajar yang tinggi.

Dialog itu ialah penggalan cerita yang terjadi enam tahun silam. Kala itu jawaban Rafi masih terasa begitu mengejutkan disebabkan bukan sebuah cita-cita arus utama. Rupanya, cita-cita itu kian relevan hingga menuju pengujung tahun 2023 ini. Bahkan, para remaja serta anak muda, saat ini telah berbondong-bondong meniti karier di mimbar media sosial.

Berbeda dengan generasi pendahulu yang dalam memilih karier serta pekerjaan untuk suatu kebanggaan diri, anak sekarang lebih berorientasi pada uang. Mereka menyukai pekerjaan yang mengantarnya pada ketenaran serta gelimang cuan, disebabkan kegembiraan harus dibiayai dengan uang yang banyak.

Baca juga :  Kemenparekraf upayakan percepatan Dana Kekal Pariwisata tahun depan #infoMenarik

Sementara generasi lama, cukup merasa bangga menjadi ASN, TNI, dokter, guru atau profesi lain yang memiliki nilai pengabdian pada negara serta sesama. dapat jadi, nominal gaji tak begitu dipusingkan disebabkan kebanggaan menjadi suatu yang tak ternilai. 

Orang-orang dulu selalu memajang foto anggota keluarganya yang berseragam dinas di ruang tamu, sebagai ekspresi kebanggaannya.

Motivasi mengabdi dalam memilih profesi, mungkin kini sudah menjadi hal langka disebabkan dianggap tidak menjanjikan. Gemerlap layar media sosial nyatanya lebih menggiurkan lantaran menjanjikan popularitas serta limpahan uang.

Pakar ekonomi media sosial Brooke Erin Duffy, melalui bukunya “(Not) Getting Paid To Do What You Love”, mengungkap adanya kesenjangan yang lebar antara mereka yang berhasil menorehkan karir cemerlang sebagai pemengaruh dengan mereka yang tidak.

Selebihnya, krisis kesehatan mental menjadi ancaman bagi para selebritas media sosial, oleh sebab sengitnya kompetisi di ruang digital itu. jaga eksistensi, memenuhi keinginan para pengikut, serta mengikuti pola algoritma, hanyalah beberapa tantangan, selain proses kreatif yang harus menghasilkan konten menarik setiap hari. Akibatnya, pada titik tertentu banyak kreator konten mengalami kelelahan luar biasa.

jaga tetap ada

jaga supaya tetap “ada” di linimasa menjadi perjuangan tanpa henti bagi para kreator konten. Tak heran, pada kelas selebritas papan atas, mereka memiliki puluhan kru untuk memperkuat tim kreatif serta produksi. Lantas apa kabarnya dengan para pemain tunggal yang belum mampu merekrut tim, tetapi terobsesi mencari nafkah di jalur cepat itu?

Sebagai gambaran, berikut ialah sejumlah tantangan yang harus ditaklukkan para pejuang konten untuk memenangkan pertarungan.

Kreatif, menjadi kata kunci dalam memproduksi konten yang dapat memikat audiens untuk menyukai serta selanjutnya mengikuti. Setelah memiliki banyak pengikut, bukan berarti tantangan selesai, melainkan akan lebih tinggi lagi, disebabkan ragam pengikut umumnya banyak keinginan serta kemauannya.

Baca juga :  Beby Tsabina: Cantik itu harus nyaman serta aman #infoMenarik

Kamera. Keberadaan kamera membuat orang cenderung jaim (jaga image) untuk menampilkan kesan atau citra yang diinginkan. Jaim yang dilakukan terlalu sering atau terus-menerus dapat menjadi beban atau malah akan membentuk sebuah karakter baru disebabkan diperankan secara konsisten.

Konsisten. Konsisten dalam berproduksi mesti dilakukan supaya tidak ditinggalkan para penonton serta jaga eksistensi di linimasa. Konsisten ialah tantangan terberat bagi para kreator disebabkan menuntut kreativitas yang harus hadir setiap hari.

Komunikatif. Interaksi yang hangat serta respons yang cepat berlangsung sepanjang waktu untuk merawat kesetiaan para pengikut. Sedikit saja merasa kecewa, mereka dapat berbalik menjadi pembenci. Maka, seorang selebritas medsos dituntut memiliki kesabaran yang luas dalam menghadapi berbagai komentar, apapun itu, termasuk kritik.

Kuasa platform. Permainan algoritma ialah hal wajib yang harus ditaklukkan untuk dapat menjadi jawara linimasa. Konten bagus yang rutin diunggah setiap hari pun tidak serta merta menjadi populer tanpa kecakapan mengakali algoritma yang diperbarui setiap saat.

supaya tidak didera stres berkepanjangan gara-gara perlombaan di jagat maya yang tak ada habisnya, mungkin ada baiknya para pemain mengganti orientasi.

Ajang berbagi

Media sosial dapat menjadi ajang pertarungan sengit, tetapi dapat juga sebagai wahana berbagi penuh berkah, tergantung bagaimana para pengguna memperlakukannya. Bila anda petarung ambisius yang ingin menjadi selebritas dengan mendulang pendapatan fantastis, silakan lanjut menghadapi tantangan serta permainan. tetapi, jika itu terasa melelahkan, kita dapat melipir sembari memperbaiki motivasi dengan sejumlah langkah.

Baca juga :  KBRI Doha: Program “Years of Culture” sebagai promosi budaya Indonesia #infoMenarik

Sejak awal jangan jadikan medsos sebagai tumpuan sumber penghasilan utama, miliki profesi atau pekerjaan serta usaha lain yang lebih prospektif dari sekadar “berjudi” di dunia virtual. Dengan tidak menjadikannya sebagai tempat mencari nafkah utama, maka kita tidak perlu terlibat persaingan yang menguras tenaga serta pikiran.

Kemudian niatkan aktif di medsos untuk memperbanyak teman, memperkaya jaringan, serta berbagi informasi yang bermanfaat. Kita dapat membuat konten-konten menarik untuk mengasah kreativitas, memuaskan hasrat belajar dalam banyak hal, serta nikmati hasilnya untuk kepuasan batin.

Jangan jaim di depan kamera, termasuk menyiapkan segala properti pendukung untuk menciptakan kesan wah di layar. Berlakulah senatural mungkin supaya tak terbebani untuk memainkan peran yang diskenariokan. Berakting apa adanya seperti gaya keseharian akan lebih membuat nyaman bagi pemeran serta tidak membosankan bagi penonton.

Hindari terlalu pamrih untuk memperoleh apresiasi dalam bentuk “suka’, “bagikan” atau “berlanggaan” untuk akun medsos kita, apalagi mengemis untuk mendapatkan itu semua. Berkarya saja dengan tulus, bila banyak disukai audiens itu rezeki. Jika belum, minimal produktif dalam menghasilkan karya itu merupakan prestasi, yang membuat kita pantas bersenang hati. Pandailah mengapresiasi diri sendiri, apabila dirasa tak gampang menggapai penghargaan dari orang lain.

Menjadikan medsos sebagai ladang kebajikan dengan memanfaatkan jejaring sosial itu untuk menebarkan berbagai kampanye kebaikan, semisal peduli lingkungan, pelindungan satwa, donasi kemanusiaan, pembelajaran gratis serta lain sebagainya. Perluas orientasi moneteisasi bahwa keuntungan tidak selalu berupa uang, melainkan menularkan hal-hal yang berfaedah dalam rangka menabur karma baik.

Ketika kita telah mengubah orientasi dalam bermedia sosial, maka menekuni profesi (sampingan) kreator konten tak lagi menjadi beban oleh berbagai tuntutan pihak eksternal. Puaskan dengan berkarya, semata untuk membuat diri merasa berharga serta bermakna bagi banyak orang.

Sumber : Antaranews.com

Komentar

0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Jangan lewatkan

0
Punya ide, saran atau kritik? Silakan berkomentar.x
()
x