28 C
Sidoarjo
BerandaJatimPenutupan SPBU di Banten Berkat Kepedulian Masyarakat untuk Melapor

Penutupan SPBU di Banten Berkat Kepedulian Masyarakat untuk Melapor

Masyarakat Kabupaten Serang, Banten, memiliki andil besar atas ditutupnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 3442117 di Kecamatan Kibin, yang terbukti melakukan kecurangan dengan menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak sesuai takaran.

Hal tersebut disampaikan Kombes. Pol Shinto Silitonga Kabid Humas Polda Banten pada Radio Suara Surabaya, Jumat (24/6/2022) siang. Para konsumen awalnya curiga disebabkan karakter serta pola pengisian BBM mereka di SPBU tersebut tiba-tiba berubah.

“Lebih dari satu bulan lalu, pengisian BBM di SPBU tersebut tiba-tiba jadi berubah jangka waktunya. Yang biasanya mengisi BBM satu kali dalam satu minggu, tiba-tiba jadi lebih sering dari itu. Akhirnya ,” ungkap Shinto.

Selanjutnya, beberapa konsumen melaporkan kecurigaan mereka pada Ditreskrimsus Polda Banten, terkait adanya kecurangan serta manipulasi takaran BBM di SPBU tersebut. Setelahnya, penyidik dari Polda Banten langsung turun untuk melakukan penyelidikan selama satu bulan.

Baca juga :  Ketua MPR minta Pemda Waspada Terhadap Naiknya Covid-19 Secara Signifikan

“Akhirnya, penyidik berhasil menemukan adanya remote control yang tersambung pada motherboard dispenser SPBU, serta dapat dipakai untuk mengubah takaran sesuai keinginan pengelola SPBU SPBU,” paparnya.

Tidak tanggung-tanggung, penyidik menemukan empat dispenser yang dipasang akses remote control. Selain itu, praktik tersebut dicurigai sudah berlangsung sejak tahun 2016. Polda Banten pun telah menetapkan dua tersangka atas kasus tersebut, yakni salah seorang pemilik wanita usia berinisial FT (61), serta seorang laki-laki inisial BP (68) yang menjabat sebagai manajer.

“Polda Banten akan menjerat kedua tersangka, tidak hanya dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen serta Undang-Undang Meteorologi. Tapi juga akan dijerat dengan dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Ancaman pidananya lima tahun penjara dengan denda Rp2 miliar,” ujar Shinto.

Baca juga :  JK: Tjahjo Kumolo Telah Abdikan Diri Sangat Baik pada Negara

Selain itu, kepolisian juga akan berusaha menjerat tersangka dengan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang, disebabkan sejak tahun 2016 sampai dengan 2022, keduanya telah menikmati hasil kecurangan Rp4 sampai Rp5 juta perhari.

“Jika dikalkulasikan selama tujuh tahun, setidaknya kerugian konsumen dapat mencapai Rp7 miliar,” katanya.

Setelah berhasil mengungkap praktik gelap tersebut, Polda Banten langsung berkoordinasi dengan PT Pertamina, yang selanjutnya melalui Pertamina Patra Niaga Subholding Regional Jawa Bagian Barat, memberikan sanksi penutupan selama enam bulan terhadap SPBU tersebut.

Lamanya waktu pihak kepolisian untuk mengungkap praktik tersebut, lanjut Shinto, dikarenakan banyaknya masyarakat yang cenderung cuek untuk melaporkan hal seperti ini. meski demikian, dia mewakili Polda Banten mengucapkan terimakasih pada konsumen yang masih peduli serta teliti untuk pola konsumsi BBMnya.

Baca juga :  CARA DAFTAR MY PERTAMINA DENGAN MUDAH serta CEPAT || APLIKASI MY PERTAMINA || TUTORIAL #tutorial

“Bahkan sebenarnya pelayanan di SPBU itu tampak normal. dapat dibayangkan kalau konsumen cuek, akan sangat sulit untuk mengangkat indikator ini menjadi sebuah pengungkapan.

Dia berpesan, kedepannya supaya seluruh masyarakat di Indonesia dapat membantu kepolisian adanya praktik ilegal yang merugikan masyarakat.

“Masyarakat serta konsumen itu harus dilayani dengan baik. Tapi, juga harus berani melapor untuk kedepannya,” pungkas Kabid Humas Polda Banten. (bil)

Sumber -> Suara Surabaya

Komentar

0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Jangan lewatkan

0
Punya ide, saran atau kritik? Silakan berkomentar.x
()
x