28 C
Sidoarjo
BerandaJatimCIPS: Indonesia Perlu Reformasi Kebijakan Pertanian Cegah Krisis Pangan

CIPS: Indonesia Perlu Reformasi Kebijakan Pertanian Cegah Krisis Pangan

Lembaga penelitian Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) menilai pemerintah Indonesia perlu melakukan reformasi kebijakan pertanian secara menyeluruh serta mendesak untuk mencegah terjadinya krisis pangan.

Menurut Felippa Ann Amanta Kepala Penelitian CIPS mengatakan potensi terjadinya krisis pangan disebabkan disebabkan oleh konflik geopolitik global serta ancaman perubahan iklim serta permasalahan produktivitas.

“Diperlukan pemahaman dari semua pihak kalau sistem pangan itu kompleks, terdiri atas produksi, distribusi, rantai pasok, serta juga perdagangan internasional. Membenahi salah satu saja tidak akan cukup disebabkan semuanya saling menopang,” kata Felippa Ann Amanta Kepala Penelitian CIPS di Jakarta, Jumat (24/6/2022) melansir Antara.

Sebagai informasi, Global Food Security Index 2021 menempatkan Indonesia di posisi 69 dari 113 negara.

Baca juga :  Pemkot Surabaya Gelar Startup Festival 1.0

Indeks tersebut menunjukkan Indonesia berada di dalam kategori Sumber Daya Alam serta Ketahanan, yang memiliki kerentanan terhadap risiko sumber daya alam, perubahan iklim, serta adaptasi terhadap risiko-risiko tersebut.

Selain itu, Indonesia menempati peringkat ke-54 dalam kategori Keterjangkauan serta peringkat ke-95 dalam kategori Kualitas serta Keamanan.

Felippa melanjutkan, peringkat-peringkat tersebut merefleksikan bahwa kebijakan pertanian yang sudah dijalankan perlu dievaluasi serta diadaptasi supaya dapat menjawab tantangan dari risiko-risiko yang ada.

Menurutnya, swasembada yang seringkali dijadikan tolok ukur keberhasilan pembangunan pertanian, sudah tidak relevan untuk Indonesia.

“Terus bertambahnya jumlah populasi serta terus berkurangnya luas lahan pertanian akan berdampak pada penyediaan pangan bagi ratusan juta penduduk. Kita perlu memanfaatkan keterbatasan yang ada dengan metode yang lebih efisien serta tidak membahayakan lingkungan,” kata Felippa.

Baca juga :  Robot Otonom Akan Gantikan Manusia Tangani Pekerjaan Berbahaya

Felipe menambahkan bahwa kebijakan pertanian perlu diarahkan pada intensifikasi yang fokus pada pemanfaatan lahan yang sudah ada dengan menggunakan input pertanian berkualitas.

Kebijakan ini dapat mendukung sistem pertanian berkelanjutan dengan memastikan lingkungan dapat terus memberikan manfaat pada manusia, dengan cara-cara yang aman.

Aditya Alta salah satu Peneliti CIPS menyebut usaha untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan serta hortikultura mendesak untuk dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk menjawab tantangan yang dihadapi sektor pertanian di Tanah Air.

Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, peningkatan produktivitas tanaman pangan serta hortikultura diharapkan juga dapat meningkatkan daya saing pertanian nasional.

Statistik menunjukkan produktivitas padi, kedelai serta bawang merah cenderung mendatar dalam beberapa tahun terakhir dengan masing-masing di angka 5 ton gabah kering giling per hektare , 1,5 ton biji kedelai kering per hektare,serta 10 ton bawang per hektare.

Baca juga :  HUT ke-76 Bhayangkara, Kapolri minta Jajarannya Makin Dekat dengan Masyarakat

CIPS merekomendasikan upaya peningkatan produktivitas lahan maupun tenaga kerja melalui penggunaan bibit unggul, peningkatan akses petani terhadap pupuk, penanganan serangan hama atau Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) serta penggunaan alat mesin pertanian atau mekanisasi.

Selain itu, Aditya mengatakan peningkatan produktivitas juga dapat dilakukan melalui perbaikan teknik budidaya, perbaikan serta perluasan jaringan irigasi.

Kemudian penggunaan modifikasi cuaca untuk mitigasi perubahan iklim serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia sektor pertanian.

Dia mengatakan ketimpangan produktivitas tanaman pangan (padi, jagung, serta kedelai) antara wilayah Jawa serta luar Jawa juga merupakan isu yang penting untuk diselesaikan dalam upaya meningkatkan produktivitas nasional.(ant/wld)

Sumber -> Suara Surabaya

Komentar

0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Jangan lewatkan

0
Punya ide, saran atau kritik? Silakan berkomentar.x
()
x