30 C
Sidoarjo
BerandaJatimPemkot Terbitkan Surat Edaran Pedoman Pelaksanaan Kurban di Surabaya

Pemkot Terbitkan Surat Edaran Pedoman Pelaksanaan Kurban di Surabaya

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menerbitkan Surat Edaran (SE) sebagai pedoman penjualan hewan ternak selama terjadinya wabah penyakit mulut serta kuku (PMK) menjelang Peringatan Hari Raya Iduladha 1443 Hijriah pada 9 Juli 2022 mendatang.

Surat Edaran bernomor 451/9519/436.7.9/2022 yang ditandatangani Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya pada 6 Juni lalu itu berisi beberapa poin penting yang perlu diketahui oleh penjual hewan kurban.

Dalam SE tersebut dijelaskan bahwa hewan ternak yang masuk ke Surabaya harus sesuai rekomendasi serta aturan dari Dinas Ketahanan Pangan serta Pertanian (DKPP) serta camat di masing-masing wilayah.

Eri menyebut, setelah mendapat persetujuan menjual hewan ternak, pihak kecamatan setempat akan melakukan pemeriksaan terhadap lokasi penjualan untuk memastikan terpenuhinya persyaratan teknis. Setelah itu, camat setempat mengusulkan pada Pejabat Otoritas Veteriner atau DKPP Surabaya untuk melakukan pemeriksaan terhadap hewan kurban yang akan diperjualbelikan.

Baca juga :  Lima Masjid Jatim Raih Predikat Masjid Terbaik di DMI Award 2022

“Apabila dinyatakan telah memenuhi persyaratan teknis hewan kurban, maka akan mendapatkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan yang ditandatangani oleh Pejabat Otoritas Veteriner Kota Surabaya,” kata Eri Cahyadi, Kamis (23/6/2022).

Di dalam SE Wali Kota itu juga tercantum persyaratan teknis tempat penjualan hewan kurban, yaitu pedagang ternak kurban harus memiliki lahan yang cukup, sesuai dengan jumlah hewan.

Selain itu, pedagang wajib memberi pagar atau pembatas di lahan dagangannya supaya hewan tidak berkeliaran serta memungkinkan adanya ternak lain yang masuk ke tempat penjualan.

Pedagang ternak juga harus menyediakan fasilitas untuk menampung limbah. Sebelum limbah dibuang, penjual diwajibkan terlebih dahulu melakukan desinfeksi atau pemusnahan. Fasilitas yang harus didesinfeksi yaitu kendaraan, peralatan, hewan, serta limbah yang tidak dapat diobati.

Baca juga :  PPKM Luar Jawa-Bali Berlanjut sampai 1 Agustus 2022

Bukan itu saja, di dalam SE Wali Kota juga disebutkan, pedagang wajib menyediakan tempat pemotongan serta isolasi khusus apabila ada salah satu ternak diduga terjangkit PMK serta tidak dapat diobati.

Eri menjelaskan, hewan ternak yang dinyatakan suspek sebisa mungkin segera ditangani serta dilakukan pengobatan untuk pencegahan virus PMK.

“Setiap peternakan serta yang menjual hewan kurban nanti akan kita periksa satu persatu. Meskipun PMK tidak berbahaya bagi manusia, paling tidak kita pastikan ternak yang masuk itu sehat serta aman, sedangkan yang suspek juga kita obati,” katanya.

Eri menambahkan dokter hewan yang berwenang atau petugas pemeriksa kesehatan hewan juga berhak memberikan rekomendasi atau saran yang harus dipatuhi oleh penjual kurban. Apabila ditemukan ada hewan kurban yang tidak layak serta diduga terjangkit PMK serta persyaratan lain yang belum terpenuhi, maka penjual harus bertanggung jawab terhadap kebersihan tempat serta lingkungannya.

Baca juga :  New York Sahkan Undang-Undang Larangan Membawa Senjata di Ruang Publik

Selain pedoman penjualan hewan ternak untuk kurban, di dalam SE itu juga disebutkan rekomendasi aman pembelian atau memilih hewan untuk kurban, ada pula pedoman serta prosedur serta tata laksana pemotongan hewan kurban.

“Hewan kurban yang diperjualbelikan harus dalam kondisi sehat, penjual juga wajib memberi laporan pada camat setempat secara langsung, setiap ada kedatangan hewan ternak mulai dari jenis, jumlah serta asalnya,” pungkasnya.(dfn/ipg)

Sumber -> Suara Surabaya

Komentar

0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Jangan lewatkan

0
Punya ide, saran atau kritik? Silakan berkomentar.x
()
x