26 C
Sidoarjo
BerandaJatimHukum Melindungi Hak Korban Kejahatan Membela Diri

Hukum Melindungi Hak Korban Kejahatan Membela Diri

Riza Alifianto Kurniawan Dosen Hukum Pidana Universitas Airlangga mengatakan hukum memberikan perlindungan pada orang yang terpaksa melakukan pembelaan diri ketika ada serangan yang mengancam harta kekayaan, nyawa, anggota badan, serta kehormatannya.

“Hukum memberikan hak untuk melakukan pembelaan diri serta ini sudah diatur dalam Pasal 49 KUHP. Pembelaan terpaksa serta pembelaan yang melebihi batas diperbolehkan. Syaratnya, harus ada serangan yang melawan hukum, seperti pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, atau penganiaya yang mengancam korban. Penyerangan dimulai oleh pelaku,” katanya dalam program Wawasan di Radio Suara Surabaya, Selasa (19/4/2022)

Bahkan, dalam hal pencurian dengan kekerasan atau begal, korban dibenarkan untuk membela diri dengan senjata dia miliki atau dia temukan di lokasi.

disebabkan itu, langkah jajaran Satreskrim Polres Lombok Tengah yang menetapkan korban begal berinisial AS sebagai tersangka dalam dugaan kasus kasus pembunuhan serta penganiayaan dua begal baru-baru ini, kurang tepat.

Baca juga :  Mudahnya Mengurus SIM dengan Layanan SINAR di Aplikasi Digital Korlantas Polri

“Penyidik harus bijak, jangan terburu buru menetapkan tersangka. Penyidik punya kewenangan mengumpulkan alat bukti. Kalau menemukan ada bukti ini pembunuhan terpaksa, jangan buru buru menetapkan korban begal ialah tersangka. Cukup ditetapkan sebagai saksi saja kemudian dilimpahkan ke penuntut umum. Nanti penuntut umum menyidangkan perkara ini untuk mengkualifikasi perbuatan korban apakah benar atau tidak. Hakim yang akan menentukan Pasal 49 KUHP ini menjadi pembenar atau pemaaf,” kata Riza.

Kemudian, terkait penghentian penyidikan kasus itu, Riza meyakini alasannya bukan disebabkan viral. “Mungkin penyidik menemukan fakta lain seperti tidak adanya tindak pidana yang terjadi,” kata Riza.

Keriuhan di media sosial serta pemberitaan media massa, menurut Riza, ialah salah satu bentuk pengawasan dari masyarakat. Gunanya untuk membantu supaya tidak ada penyalahgunaan wewenang oleh pemerintah serta penegak hukum.

Baca juga :  Dewan Pers Mendorong Media Massa Berperan jaga Soliditas Masyarakat Jelang Pemilu 2024

Sebelumnya, Jajaran Satreskrim Polres Lombok Tengah menetapkan Amaq Sinta yang merupakan korban begal sebagai tersangka dalam dugaan kasus dua begal yang tewas bersimbah darah di jalan raya Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur, Minggu (10/4/2022) dini hari.

Selain menetapkan korban menjadi tersangka dalam dugaan kasus pembunuhan serta penganiayaan, dua teman pelaku begal inisial WH serta HO warga Desa Beleka yang berhasil melarikan diri juga ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus tindak pidana curat.

Kronologis kejadian itu bermula ketika korban pergi ke Lombok Timur untuk mengantarkan makanan pada ibunya. Di tengah jalan di TKP korban dipepet oleh dua orang pelaku begal serta melakukan perlawanan menggunakan senjata tajam. Tidak lama kemudian datang dua teman pelaku yang kemudian melakukan perlawanan juga pada korban, tetapi semua pelaku berhasil ditumbangkan oleh korban.

Baca juga :  Dua Siswi SMA Bangkalan Diduga Jadi Korban Penculikan Nekat Melompat dari Angkot

Dalam kejadian itu, satu korban melawan empat pelaku yang mengakibatkan dua pelaku begal inisial P (30) serta OWP (21) warga Desa Beleka tewas. Sedangkan dua pelaku lainnya melarikan diri serta saat ini telah diamankan Polisi.

Polisi menghentikan penyidikan kasus ini pada Sabtu (16/4/2022). Berdasarkan gelar perkara khusus, penyidik tidak menemukan unsur perbuatan melawan hukum baik secara materiil maupun formil. Penyidik melihat perbuatan AS sebagai bentuk pembelaan terpaksa sesuai yang diatur dalam Pasal 49 ayat 1 KUHP tentang Pembelaan Terpaksa (Noodweer). (iss/rst)

Sumber -> Suara Surabaya

Komentar

0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Jangan lewatkan

0
Punya ide, saran atau kritik? Silakan berkomentar.x
()
x