29 C
Sidoarjo
BerandaJatimKemenaker Berharap UU Pesantren Mempermudah Santri Mengakses Dunia Kerja

Kemenaker Berharap UU Pesantren Mempermudah Santri Mengakses Dunia Kerja

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) berharap Undang-undang Nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren, dapat memberikan keleluasaan bagi santri untuk berinovasi, sehingga lebih mudah dalam mengakses dunia kerja.

“Hal yang tidak kalah penting ialah kreativitas, ini berkaitan dengan kemampuan santri,” kata Muhammad Ali Direktur Penyelenggaraan Pendidikan Vokasi Kemenaker, saat mengisi Pesantren Kilat (Sanlat) Nasional di Gedung DPRD Kota Bogor Jawa Barat, Sabtu (16/4/2022) dikutip Antara.

Menurutnya, para santri dapat belajar dari kegagalan perusahaan produsen ponsel, Nokia yang dalam sekejap kalah menguasai pasar oleh produsen ponsel lainnya disebabkan kurangnya inovasi.

“Nokia saat menguasai pasar terlena dengan kemapanan yang dimiliki, sehingga lupa melakukan kreativitas lainnya, sehingga dalam sekejap dikalahkan,” katanya.

Baca juga :  DKPP Melarang Hewan Ternak Masuk Surabaya Tanpa Surat Keterangan Sehat 

Disebutkan, para santri juga perlu mengedepankan sikap kolaborasi yang dianggapnya sebagai kunci sukses dalam dunia kerja.

Ia mencontohkan perusahaan Gojek serta Youtube yang sukses mengedepankan kolaborasi.

Beberapa santri mengikuti pesantren Kilat (Sanlat) Ramadhan 1443 Hijriyah bertajuk “Pendidikan Vokasi di Kalangan Santri” di Gedung DPRD Kota Bogor Jawa Barat, Sabtu (16/4/2022). Foto: Antara

“Gojek itu tidak punya mobil serta motor. Tapi dengan kemampuan kolaborasi, Gojek menjadi perusahaan transportasi terbesar. Youtube juga tidak punya konten kreator, tapi jutaan konten kreator mengunggah videonya di Youtube,” katanya.

Seementara itu dalam kesempatan yang sama, Caswiono Rusydi Cakrawangsa Staf Khusus Menaker, meyakini bahwa eksistensi para santri dapat bangkit setelah lahirnya UU tentang pesantren pada 2019 lalu.

Baca juga :  Kementan Pastikan Stok Ternak untuk Iduladha Aman meski Ada Wabah PMK

Alasannya, sebelum lahir UU tersebut kondisinya ironis disebabkan perlakuan negara seolah membuat santri terpinggirkan. Hal itu berkaca dari penganggaran yang lebih dominan untuk pendidikan umum.

“Ini terlihat dari pembangunan, negara lebih berpihak pada pendidikan modern, padahal pesantren hadir jauh ratusan tahun lalu,” katanya.

meski begitu, diharapkan para santri dapat tetap mempertahankan tradisi-tradisi lama yang baik, serta mengambil hal-hal baru yang lebih baik. (ant/bil)

Sumber -> Suara Surabaya

Komentar

0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Jangan lewatkan

0
Punya ide, saran atau kritik? Silakan berkomentar.x
()
x