25 C
Sidoarjo
BerandaNasionalNusantaraMinyak Goreng Membara, Rakyat Menderita

Minyak Goreng Membara, Rakyat Menderita

LONJAKAN harga minyak goreng membuat masyarakat resah. Sejak akhir tahun 2021 lonjakan tidak terhindarkan. Harga minyak naik hampir 2 kali lipat. Bayangkan hampir 200 persen kenaikan harga pasar. Sementara pandemi masih membayangi ekonomi. Masyarakat tidak mampu untuk bertahan dengan kondisi ini. Sulit diterima jika harga naik hampir 200%. Kenapa demikian? disebabkan Indonesia menempati posisi pertama negara penghasil minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) terbesar dunia. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Dengan logika susah dimengerti. Penghasil CPO terbesar dunia, tetapi harga minyak goreng terus meroket. Tentunya ada faktor-faktor yang menyebabkan angka ini terjadi. Masyarakat luas perlu memahami kondisi ini, supaya tidak ada kecurigaan terhadap pemerintah.

Fenomena ini memang unik. Secara teori, jika pasokan bahan baku cukup tentunya mampu jaga stabilitas harga. Kebutuhan akan minyak goreng nasional tidak ada kenaikan. Minyak sawit mentah yang dialokasikan pasar domestik sangat terpenuhi. Secara hitungan kertas, kondisi ini aman. Tidak terjadi gejolak harga. Tetapi faktanya berbeda. Ini hanya hitungan diatas kertas yang dimana realisasinya tentu jauh dari estimasi. Apa yang menyebabkan harga minyak goreng meroket?

Baca juga :  Open Trip Bromo All In Cuma 300rb-an !!! ]10-11 Juni 20221 Orang dapat Daftar !!!Yuk kapan…

Salah satu faktor penyebab harga minyak goreng naik tajam dikarenakan, Indeks untuk minyak makan (Oilseed Index) ada kenaikan dari 131,2 pada Desember 2020 menjadi 178,5 sehingga ada kenaikan sebesar 36 persen selama setahun. Terjadinya kenaikan harga oilseeds yang menjadi bahan baku minyak goreng, menjadi faktor penyebab terjadinya kenaikan harga minyak goreng dari Rp.13.500 per liter menjadi Rp.20.900 per liter.

Faktor selanjutnya, belum terintegrasi antara industri hilir CPO dengan kebun sawit. Sehingga produsen minyak goreng membeli CPO yang mengalami kenaikan harga di pasar dunia. Ditambah lagi terjadi krisis energi yang terjadi di beberapa negara seperti China, Eropa, India. Lonjakan harga CPO dunia yang tinggi, memberikan peluang besar untuk ekspor. Rata-rata 67,4% produksi CPO Indonesia di ekspor. Terjadilah pengurangan pasokan ke dalam negeri.

Panasnya harga minyak goreng memberikan dilema mendalam bagi pemerintah. Di satu sisi kenaikan harga CPO dunia membawa dampak baik bagi pertumbuhan ekonomi terutama kesejahteraan petani kelapa sawit. Di sisi lain akan memicu inflasi serta masyarakat terbebani. Padahal minyak goreng bahan utama kebutuhan pokok.

Baca juga :  SEMUA dapat JAJAN DARI IDOLA LOKAL REK! Onok macem-macem resto idola para warga Sidoarjo seng …

Konsumsi Masyarakat

Mengacu data survei sosial ekonomi (susenas) September 2019, rata-rata konsumsi minyak goreng dalam rumah tangga ialah 0,98 liter per kapita. Bappenas memproyeksikan jumlah penduduk tahun 2021 sekitar 273,98 juta jiwa. Sehingga diperkirakan konsumsi minyak goreng dalam rumah tangga mencapai 3.222,06 juta liter. Selain untuk rumah tangga, penggunaan penyedia makanan serta minuman juga tinggi. Konsumsinya mencapai 56 persen secara nasional. Dengan kesimpulan, penggunaan minyak goreng diluar rumah tangga jauh lebih besar. Tingginya konsumsi masyarakat belum terakomodir secara menyeluruh. Pantas saja harga masih membumbung tinggi.

Solusi Pemerintah

Sudah masuk pergantian tahun harga minyak goreng terus melambung. Diprediksi kuartal satu di tahun 2022, harga masih belum stabil. Pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Fokus Pemerintah masih dalam penanganan pandemi.

Terpecahnya konsentrasi pemerintah, akan menghambat percepatan ekonomi nasional. Maka Pemerintah perlu membuat kebijakan terkait lonjakan harga minyak yang tidak terbendung.

untuk menghadang fenomena ini, perlu berbagai kebijakan fiskal. Pajak ekspor yang tinggi, tentunya mampu menahan laju ekspor CPO. Kendati demikian, pasokan dalam negeri dapat tercukupi. Ditambah lagi Pemerintah dapat menerapkan pembatan kuota ekspor. Setiap produsen diberikan kewajiban memenuhi kuota domestik, setelah itu terpenuhi baru diberikan kewenangan untuk ekspor. Dengan batasan serta sanksi bagi pelanggar. Efek jera perlu diterapkan. Jika tidak, maka ada peluang penyelundupan.

Baca juga :  Spill panggon nyangkruk [email protected]_bar daerah sidokareAlamat e jl.sidokare asri pp 03pan…

Antisipasi ini perlu, disebabkan situasi ekonomi kurang baik. Jika langkah itu dirasa belum cukup, dapat menerapkan subsidi langsung tunai. Melalui pemberian insentif pada pengusaha. Sehingga produsen tetap menjual dengan harga pasar serta masyarakat mampu membeli dengan harga yang terjangkau. Langkah ini harapannya akan menekan laju harga minyak goreng dipasar domestik.

Dengan otoritas dari pemerintah, diharapkan mampu mengambil peran dalam mengendalikan harga minyak goreng domestik. Sehingga mampu memenuhi kebutuhan rakyat tanpa terpengaruh oleh fluktuasi CPO dunia. Rakyat harus menikmati hasil atas pencapaian pemerintah. Yang dimana Indonesia penghasil CPO terbesar dunia. Jika rakyat sejahtera, stabilitas ekonomi nasional akan berjalan sesuai harapan. (*/jay)

Oleh : Hendro Puspito, SE, M.PSDM.
(Pengusaha/Bendahara Umum LDK MUI Jatim/Ketua Umum HIMASEPA Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga)

Sumber »

Komentar

0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Jangan lewatkan

0
Punya ide, saran atau kritik? Silakan berkomentar.x
()
x