25 C
Sidoarjo
BerandaNasionalNusantaraDua Oknum Polisi Aniaya Jurnalis Tempo Divonis 10 Bulan

Dua Oknum Polisi Aniaya Jurnalis Tempo Divonis 10 Bulan

SURABAYA – Bripka Purwanto serta Brigpol Muhammad Firman Subakhi, dua oknum polisi penganiaya jurnalis Tempo, Nurhadi, akhirnya divonis 10 bulan penjara. Sidang pembacaan putusan itu digelar di Ruang Cakra, Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (12/1) pagi.

Majelis hakim yang diketuai M Basir menilai kedua terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers juncto Pasal 55 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Selain itu, majelis hakim juga membebani keduanya untuk membayar restitusi pada Nurhadi sebesar Rp 13,8 juta serta pada saksi kunci berinisial F sebesar Rp 21,8 juta.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Purwanto serta Brigpol Muhammad Firman Subakhi telah terbukti secara sah meyakinkan melakukan tindak pidana pers secara bersama sebagaimana dakwaan pertama,” ujar Basir.

Baca juga :  KPK Tambah 61 Jaksa Penuntut Umum untuk Tangani Perkara

Putusan tersebut lebih ringan dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Winarko. Sebelumnya Winarko menuntut kedua terdakwa dengan hukuman satu tahun enam bulan penjara.

Merespons putusan majelis hakim, kedua terdakwa sempat berdiskusi sejenak pada tim kuasa hukumnya. Hasilnya, kedua terdakwa menyatakan pikir-pikir. “Tapi besar kemungkinan kami akan banding. Sepuluh bulan enggak ringan bagi orang yang berprofesi,” kata Joko Cahyono, kuasa hukum terdakwa Selesai sidang.

Dalam pertimbangannya, hakim menyatakan hal yang memberatkan terdakwa lantaran para terdakwa ngotot tak mengakui perbuatannya. Sementara yang meringankan kedua terdakwa disebabkan dinilai sopan selama proses persidangan.

Meskipun dinilai terbukti bersalah, kedua terdakwa tak ditahan. Salawati Taher, anggota tim advokasi Nurhadi, menyesalkan tidak ada perintah penahanan dalam vonis majelis hakim tersebut. “Sebelum ada putusan inkrah, korban masih terus terancam,” jelasnya.

Baca juga :  JPR Optimistis Industri Media Lebih Bergairah Tahun 2022

Sementara itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya Eben Haezer mengatakan, kasus ini menjadi yang pertama dengan pelaku kekerasan jurnalis berlatar belakang aparat serta dapat diproses ke ranah hukum. “Ini ialah hal yang pertama, ketika ada pelaku kekerasan terhadap jurnalis yang berlatar belakang aparat penegak hukum, polisi, yang kemudian sampai disidangkan di pengadilan,” ujar Eben.

Eben mengungkapkan, jika kedua terdakwa yang merupakan anggota polisi aktif tersebut mendapatkan vonis yang sesuai, hal itu memunculkan optimisme terhadap kebebasan pers. “Ini memunculkan optimisme terhadap kebebasan pers di Indonesia, yang tentu saja itu harapan kita semua supaya perlindungan terhadap pers di Indonesia terjamin,” ucapnya. (far/rek)

Baca juga :  Mengenal Embrio, Strategi BRI Ciptakan Talenta Digital Inovatif & Tangguh

Sumber »

Must Read

Related News