28 C
Sidoarjo
BerandaNasionalNusantaraOJK Optimis Tahun 2022 Ekonomi di Jatim akan Tumbuh 5-5,8 Persen

OJK Optimis Tahun 2022 Ekonomi di Jatim akan Tumbuh 5-5,8 Persen

SURABAYA – Meskipun masih dibayangi pandemi, tetapi tahun 2022, pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur diperkirakan akan mencapai 5 – 5,8 persen. Hal ini naik siginifikan dibanding dengan tahun lalu yang hanya tumbuh 3,2 – 4 persen.

“Ini lompatan. disebabkan tahun lalu partumbuihanya hanya 3,2 persen. disebabkan itu kita bersama harus kerja keras. Ada beberapa program yang akan kami lakukan tahun ini,” kata Bambang Mukti Riyadi, Ketua Otoritas jasa Keuangan (OJK) Regional IV Jatim, dalam acara Outlook Ekonomi Jatim 2022, Selasa (11/1).

Dia mengaku optimis target pertumbuhan ekonomi tersebut akan tercapai. Sebab trend perbaikan ekonomi ekonomi sudah mulai terasa baik di level nasional maupun di jatim. Misalnya, program restrukturisasi kredit baik terhadap pelaku UMKM maupun korporate berjalan dengan baik.

Hal ini terlihat pada kuartal terakhir tahun lalu dimana beberapa sektor khususnya pelaku UMKM sudah mulai bangkit kembali. Mereka sudah mulai dapat mencicil kembali hutangnya. Meskipun diakui masih agak berat.

Dari catatan, hingga Oktober 2021, restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 di Jatim sebesar Rp 99,2 triliun. Dari jumlah tersebut sekitar Rp 73,1 triliun atau setara dengan 73,69 persen dari akumulasi kredit yang direstrukturisasi berasal dari perbankan. Sedangkan sisanya sebesar Rp 26,1 triliun atau 26,31 persen berasal dari lembaga keuangan non bank.

Baca juga :  PT. Jack Solusi Nutrindo is open for recruitment!PT. Jack Solusi Indonesia is a company that …

“Kebanyakan dari pelaku UMKM sektor otomotif yang dipakai untuk transportasi online. Sekarang  mulai recovery. Sudah dapat mencicil kembali. Demikian juga UMKM sektor yang lain serta korporat juga mulai mencicil. Selama pandemi covid yang paling terdampak memang UMKM,” tambahnya.

Selain itu, perdagangan antar pulau juga menunjukkan tren naik. Ke depan, pihaknya terus mendorong supaya perdagangan antar pulau ini diperkuat. Selain potensinya besar juga tidak mudah terdampak berbagai isu global yang sekarang lagi marak.

tetapi begitu, dari sisi produk, Jatim harus ada spesialisasi sehingga semakin memperkuat posisi dalam perdagangan antar pulau. Misalnya, garmen batik, tiap daerah harus memiliki spesialisasi. Sebab hampir semua daerah di Indonesia memiliki produksi batik.

“Kita jangan bergantung pada ekspor. Meskipun diakui itu nilainya cukup besar, kita harus memperkuat perdagangan antar pulau. Sehingga ketika ada perang dagang AS-China, tappering kita tidak terlalu terdampak. tetapi tol laut harus berjalan dengan baik. Sehingga kapal yang dari sini penuh, balik lagi ke sini juga harus ada isinya. Tidak kosong,” katanya.

Baca juga :  Fajar Arifianto Isnugroho Jadi Dirut RPH Surabaya

Terkait sektor perbankan, dia mengaku tahun 2022 tetap akan tumbuh meskipun ada sejumlah kendala yang harus dihadapi. Misalnya, aset industri perbankan diperkirakan tumbuh 10,6 persen hingga 31 Desember 2022 dengan nilai Rp 136,6 triliun. Sementara data hingga November 2021 lalu, mencapai Rp 123,5 triliun atau setara dengan 97,1 persen dari target.

Sedangkan penggalangan dana pihak ketiga (DPK) tahun 2022 diproyeksikan mencapai Rp112,1 triliun atau tumbuh 7,4 persen dari tahun lalu. Sementara pencapaian hingga November 2021, jumlah DPK di Jatim sebesar Rp 104,4 triliun atau setara dengan 98,8 persen dari target awal.

“Penyaluran kredit tahun 2022, kami optimis akan tumbuh 11,6 persen dengan nilai Rp 62,1 triliun. Sedangkan tahun lalu, penyaluran kredit di Jatim sebesar Rp 55,7 triliun atau setara dengan 92,4 persen dari  target,” tambahnya.

Penyaluran kredit tahun 2021 sebagian besar disalurkan ke sektor rumah tangga (28,6 persen), sektor perdagangan besar serta eceran (27 persen), sektor pertanian, perburuan serta kehutanan (6,3 persen) serta sektor konstruksi (4,3 persen).

Baca juga :  Ayu Ting Ting Ingin Pacaran tapi Ditentang Anak

Sedangkan kredit khusus untuk pelaku UMKM di Jatim, sebagian besar disalurkan untuk sektor perdagangan besar serta eceran (64,4 persen), sektor industri pengolahan (20,1 persen), sektor pertanian, perburuan serta kehutanan (70,8 persen) serta sektor konstruksi (30,6 pesen).

Soal banyaknya kasus pinjaman online tahun lalu, Bambang Mukti menghimbau masyarakat supaya berhati-hati. Pinjaman online memang memberi manfaat bagi mereka yang belum bankable. tetapi begitu, mereka harus tahu perusahaan pinjol yang legal serta terdaftar di OJK dengan mengakses website OJK.

Dia juga menyarankan supaya masyarakat yang melakukan pinjaman online jangan dipergunakan untuk kepentingan yang sifatnya konsumtif. Sebaliknya, pinjaman sebaiknya dipergunakan untuk aktivitas yang produktif dengan hasil yang lebih tinggi dari bunga pinjol.

“Kami terus berusaha optimal supaya pinjaman online semakin bermanfaat bagi masyarakat. tetapi mereka juga harus tahu manfaat serta risikonya. Misalnya berapa bunganya, berapa biayanya serta jangka waktunya. Sekarang bunga pinjol 0,4-08 persen,” tandas Bambang Mukti Riyadi. (fix/jay)

Sumber »

Must Read

Related News