33 C
Sidoarjo
BerandaNasionalNusantaraTim Unair Ciptakan Fototerapi di Rumah untuk Bayi Kuning

Tim Unair Ciptakan Fototerapi di Rumah untuk Bayi Kuning

SURABAYA – Bayi kuning atau dalam dunia kedokteran disebut Hiperbilirubinemia  menjadi permasalahan yang sering terjadi pada bayi baru lahir.

Ini diakibatkan disebabkan bayi baru lahir belum mampu untuk menyaring bilirubin seperti tubuh orang dewasa. Bilirubin ialah zat limbah yang terbentuk akibat dari proses perombakan sel darah merah.

Hiperbilirubinemia menjadi penyebab kematian nomor lima  di Indonesia pada bayi baru lahir. Permasalahan ini mengakibatkan 60 sampai 80 persen bayi harus dirawat di rumah sakit pada 7 hari pertama kehidupannya. Saat di rumah sakit bayi akan diberi berbagai penanganan untuk mengatasi hiperbilirubinemia, salah satunya ialah fototerapi.

tetapi pandemi Covid-19 yang terjadi menjadikan orang tua khawatir untuk memberikan perawatan fototerapi di rumah sakit. Selain itu pemberian fototerapi yang sesuai dengan dosis serta keadaan bayi menjadi indikator percepatan pemulihan bayi.

Demi menjawab keresahan yang ada, civitas akademika Universitas Airlangga (Unair) yakni: dr. Mahendra Tri Arif Sampurna., SpA(K)., PhD. dari Fakultas Kedokteran; Andi Hamim Zaidan, ST, MSi, PhD. dari Fakultas Sains serta Teknologi; Dr. Muhammad Nafik Ryandono, SE., MSi dari Fakultas Ekonomi serta Bisnis; serta Arya Satya Rajanagara, S.Ked dari Fakultas Kedokteran, berkolaborasi guna menciptakan sebuah inovasi yang diberi nama Smart Phototherapy System Airlangga Bilirubin Nesting (AirBiliNest).

“Inovasi ini merupakan inovasi sistem fototerapi pintar yang dilengkapi dengan kalkulator, adjusted dose, portable yang memungkinkan untuk dilakukan fototerapi efektif di rumah,” kata Arya.

Uniknya inovasi ini memberikan lingkungan yang mirip seperti rahim sehingga dapat memberikan rasa nyaman pada bayi terlebih pada bayi yang lahir prematur. Inovasi ini sekaligus membantu bayi untuk menguatkan otot-otot dengan bantuan bantalan di bagian bawah perangkat.

Tidak hanya sampai itu saja, inovasi ini juga dapat mencegah terjadinya luka dekubitus pada bayi serta membantu bayi untuk melakukan gerakan-gerakan spontan seperti menggenggam tangan, menghisap jari, atau berpegangan pada tempat tidur.

Material yang dipergunakan dilengkapi dengan serat optik yang bersifat hipoalergi serta lembut serta penempatan material yang sesuai sehingga dapat meminimalkan pancaran sinar biru di siang hari.

Dengan ditemukannya inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas fototerapi pada penyembuhan hiperbilirubinemia.

Inovasi yang berada dibawah pembinaan Badan Pengembangan Bisnis Rintisan serta Inkubasi Unair ini berhasil meraih pendanaan sebesar Rp 250 juta oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, serta Teknologi pada 10 Desember 2021 lalu.

“Saat ini sedang pengembangan. Target ke depan supaya inovasi ini dapat diterima serta mendapat surat izin edar serta bermanfaat untuk masyarakat,” pungkas Arya. (rmt/pps/rak) 

 

Sumber »

Komentar

0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Trending

Jangan lewatkan

0
Punya ide, saran atau kritik? Silakan berkomentar.x
()
x