25 C
Sidoarjo
BerandaNasionalNusantaraKementerian ESDM Tambah Kamera Termal Pantau Aktivitas Gunung Semeru

Kementerian ESDM Tambah Kamera Termal Pantau Aktivitas Gunung Semeru

LUMAJANG – Menteri Energi serta Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan pihaknya akan menambah kamera termal untuk mendeteksi suhu panas terkait aktivitas Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).

“Satu alat kamera termal dipasang untuk mendeteksi panas di Besuk Kobokan, jadi kalau ada luncuran awan panas dapat diketahui temperatur suhunya,” katanya, saat memantau aktivitas Gunung Semeru di Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru di Gunung Sawur, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jumat.

Pihak Kementerian ESDM berjanji akan melengkapi peralatan pengamatan Gunung Semeru untuk memantau aktivitas gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut, seperti kamera termal dapat memantau titik panas, sehingga potensi luncuran awan panas guguran ke arah mana dapat terdeteksi.

Baca juga :  Masjid Kemayoran Dibangun di Tanah Mayor Belanda

“Peralatan di PPGA Semeru di Gunung Sawur sudah digital serta di sana, Curah Kobokan, masih analog, tapi real time, sehingga sesuai standar semua,” tuturnya.

Keberadaan empat alat seismograf yang terpasang di Sungai Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, serta di PPGA Semeru di Gunung Sawur dinilai juga cukup untuk memantau pergerakan debit air yang turun dari Gunung Semeru.

“Sejauh ini masih belum ada peralatan yang dapat mendeteksi kapan sebuah gunung api akan meletus, tetapi suatu saat aktivitasnya akan menumbuhkan getaran tinggi, kadang gunung dapat tidur lama, tiba-tiba meletus, sehingga hal tersebut harus diwaspadai,” katanya.

untuk itu, lanjut dia, perlu dilakukan pemetaan terhadap daerah rawan bencana serta ditetapkan daerah-daerah mana saja yang harus disterilkan dari aktivitas masyarakat sebagai langkah untuk mengamankan masyarakat dari bencana Gunung Semeru.

Baca juga :  Mahesa Jual Sabu di Sememi, Dituntut Lima Tahun

“Dulu wilayah terdampak di Curah Kobokan atau 11 kilometer dari puncak, tetapi kini yang terjadi luncuran awan panas dapat mencapai 16 kilometer, sehingga terlampaui 5 kilometer akibat tumpahan lahar menyumbat aliran lahar,” katanya.

Menurutnya Gunung Semeru statusnya naik dari Level II (waspada) menjadi level III (siaga), sehingga pihaknya minta daerah-daerah yang sudah dipetakan dalam zona merah atau bahaya juga menjadi perhatian, sehingga tidak ada aktivitas masyarakat dalam radius yang sudah ditentukan.

Ia menjelaskan meningkatnya aktivitas Gunung Semeru pada 4 Desember 2021 menyebabkan sekitar 8 juta kubik pasir yang turun serta menyumbat aliran sungai, sehingga lahar yang turun dari puncak Semeru tidak dapat melalui aluran sungai tersebut yang berdampak pada meluasnya lahar ke wilayah permukiman.

Baca juga :  Koko Ari Belum dapat Diturunkan saat Persebaya Hadapi PSS Sleman

Sementara Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan satu kamera termal untuk memantau aktivitas Gunung Semeru dinilai sangat kurang, sehingga Pemkab Lumajang minta pihak Kementerian ESDM untuk menambah lagi kamera termal untuk dipasang di beberapa lokasi.

“Saya minta kamera termal ditambah serta alat-alat lain untuk memantau aktivtas Gunung Semeru ditambah,” ucap wabup yang akrab disapa Bunda Indah itu. (antara/jay)

Sumber »

Must Read

Related News