28 C
Sidoarjo
BerandaNasionalNusantaraPandemi, 15 Ribu Karyawan Hotel di Jatim Dirumahkan

Pandemi, 15 Ribu Karyawan Hotel di Jatim Dirumahkan

SURABAYA – Salah satu industri yang sangat terpukul akibat pandemi Covid-19 ialah perhotelan. Ketua Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel serta Restoran Indonesia (BPD PHRI) Jawa Timur Dwi Cahyono menyebut okupansi hotel di Jawa Timur sempat anjlok hingga 6 persen. Rata-rata okupansi hotel selama masa pandemi berada di angka 10 persen.

“Ini menyebabkan 15 ribu karyawan hotel terpaksa dirumahkan. Bahkan, anjloknya okupansi hotel tersebut membuat sebagian hotel di Jawa Timur bangkrut,” katanya di Surabaya, Jumat (17/12).

Dwi mengatakan, untuk menyelamatkan bisnis tersebut beberapa pemilik memilih untuk menjual hotel ke pihak lain. Di Jatim sekitar 20 persen hotel sudah berganti pemilik. “Turunnya okupansi ini juga berdampak terhadap UMKM serta ekosistem pendukung hotel. Sekitar 60 ribu yang terdampak,” katanya.

Baca juga :  Mobil ASN Seruduk Pohon serta Tiang Listrik di Jalan Diponegoro

Menurut Dwi, geliat bisnis perhotelan mulai menunjukkan gairah kembali sejak September 2021. Saat ini okupansi hotel rata-rata berada pada kisaran 52 persen. “Memang sempat ada penurunan lagi disebabkan ada rencana pemberlakuan PPKM level 3 yang akhirnya dibatalkan,” jelasnya.

Dwi berharap okupansi hotel terus naik. meski demikian, kondisi membaik seperti ini tidak boleh melonggarkan protokol kesehatan (prokes). “Prokes ketat harus tetap diterapkan secara disiplin untuk mencegah penularan Covid-19. Harapan kami, okupansi hotel meningkat menjadi 55 persen hingga 60 persen,” jelasnya.

Menghadapi momen Natal serta Tahun Baru, pihaknya minta seluruh anggota PHRI untuk melakukan pengetatan prokes. Yakni, dengan menerapkan CHSE atau cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), serta environment sustainability (kelestarian lingkungan). Selain itu, juga penerapan protokol kesehatan.

Baca juga :  Golkar Diprediksi Mampu Memenangkan Kontestasi Pemilu 2024

“Kami tidak ingin terulang kembali ada kenaikan Covid-19 setelah ada liburan. Jadi, meskipun tidak ada PPKM level 3, tetap kami perketat dengan CHSE hingga penerapan aplikasi PeduliLindungi,” pungkasnya. (mus/rek)

Sumber »

Must Read

Related News