28 C
Sidoarjo
BerandaNasionalNusantaraKonversi LPG ke Kompor Induksi, Subsidi Energi Jadi Lebih Tepat Sasaran

Konversi LPG ke Kompor Induksi, Subsidi Energi Jadi Lebih Tepat Sasaran

JAKARTA – Program konversi dari kompor Liquefied Petroleum Gas (LPG) ke kompor induksi yang diusung oleh PT PLN (Persero) tidak hanya bicara meningkatkan demand listrik atau pun memangkas defisit neraca perdagangan. Program ini dapat menjadi jalan alternatif untuk dapat menyelesaikan permasalahan subsidi energi yang selama ini dinilai kurang tepat sasaran.

Selama ini, subsidi energi yang dikeluarkan oleh pemerintah terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Subsidi energi naik rata-rata 3,7 persen setiap tahun serta diperkirakan pada 2022 alokasi subsidi energi naik 4,3 persen dibandingkan 2021.

Alhasil tahun depan kenaikan subsidi energi diperkirakan menjadi Rp134 triliun. Subsidi energi ini terdiri dari subsidi jenis BBM tertentu serta LPG tabung 3 kg sebesar Rp77,54 triliun serta subsidi listrik sebesar Rp56,47 triliun.

Maka dari itu, arahan lisan Presiden RI Joko Widodo di hadapan direksi serta komisaris PLN terkait konversi kompor elpiji ke kompor induksi layaknya dapat menjadi momentum reformasi subsidi energi yang belum pernah terselesaikan secara baik.

Direktur Niaga serta Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril menyebutkan, selama ini metode penyaluran subsidi dalam bidang kelistrikan terbukti paling efektif dibanding subsidi energi yang lain.

Baca juga :  Warga Pesisir Surabaya Diminta Waspada Gelombang Tinggi

Dia pun sadar, bagi masyarakat kurang beruntung yang saat ini mendapatkan listrik bersubsidi dengan daya 450 VA tentunya tidak akan dapat melakukan konversi tersebut. Mengingat kompor induksi membutuhkan daya listrik yang cukup besar, maka pelanggan kurang mampu harus meningkatkan dayanya yang secara otomatis akan menghapus status subsidi yang mereka dapatkan.

Maka dari itu, PLN sudah mulai mengkaji mekanismenya untuk pelanggan yang disubsidi. Sehingga masyarakat kurang mampu juga akan dapat mendapatkan manfaat dari program konversi ke kompor induksi.

PLN tengah mengkaji bagaimana memaksimalkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) untuk penyaluran subsidi ini nanti. Selain itu, PLN juga akan mengusulkan pada pemerintah untuk reformasi tarif yang lebih sederhana untuk penyaluran subsidi yang lebih tepat sasaran.

“Kita sudah diskusikan dengan regulator, dalam hal ini Kementerian ESDM. Atau dapat juga kita memanfaatkan digitalisasi, kompor listrik sekarang sudah digital juga jadi dapat ditandai untuk menyalurkan subsidi yang tepat sasaran,” imbuhnya.

Baca juga :  Gondol Tujuh Batang Emas di Pasar Atoom, Divonis Tiga Tahun

Terkait dengan arahan Presiden RI, Bob menambahkan, PLN saat ini fokus mengampanyekan keunggulan memasak dengan kompor induksi yang nyaman, mudah, tidak berbahaya, bahkan aman untuk anak-anak. Selain itu, penggunaan kompor listrik juga terbukti lebih murah, disebabkan tingkat efisiensinya tinggi.

“Bahasa mudahnya kalau memasak air dengan kompor listrik serta gas, maka waktu yang dibutuhkan untuk memasak menggunakan listrik lebih cepat. Kenapa lebih cepat? Dari pandangan sekilas kalau kita masak, wajan atau panci langsung menempel dengan kompor sehingga panasnya tidak terbuang, sementara kompor gas ada jaraknya, itu ada yang terbuang panasnya,” paparnya.

Senada, Ekonom Indef Abra Talattov menilai program konversi dari kompor LPG ke kompor induksi ini tidak hanya mengurangi defisit neraca perdagangan tetapi juga jaga ketahanan energi kita. Dia pun melihat manfaat positif konversi kompor induksi ada dari sisi subsidi.

“Harga LPG subsidi selama 14 tahun harganya tidak pernah berubah. Jadi gap antara LPG subsidi serta tidak sekarang sudah sekitar Rp 5.300 per kg. Jadi sangat wajar, hampir 60 persen masyarakat yang tidak berhak turut menikmati LPG bersubsidi. Kalau dibiarkan terus, subsidi energi yang diberikan pemerintah akan terus tidak tepat sasaran,” katanya.

Baca juga :  Gunung Bawah Laut Erupsi, Jepang minta Ribuan Warga di 8 Provinsi Mengungsi

Maka dari itu, Abra pun mendesak pemerintah untuk segera melakukan reformasi subsidi energi. Dari satu sisi mengurangi ketergantungan pada LPG, kemudian juga mempertajam subsidi energi yang lebih tepat sasaran.

“Bagaimana pemerintah dapat memperjelas rumah tangga yang memang berhak mendapatkan subsidi energi. Salah satunya dengan subsidi kompor listrik dengan data yang lebih valid. disebabkan data PLN sudah jelas,” tegas Abra.

Hanya saja, Abra engingatkan PLN jangan hanya fokus menyasar masyarakat yang akan diberi subsidi energi untuk beralih dari LPG ke Induksi. Pelanggan non subsidi juga harus menjadi target pelanggan konversi energi ini. Terlebih ketika PLN menyebutkan efisiensi kompor induksi, tentu kalangan menengah atas akan lebih rasional.

“Jadi saran saya yang dijadikan sasaran awal para ASN, pegawai BUMN, TNI/Polri, pemerintah serta para pejabat, untuk memberi contoh pada masyarakat. Bahwa menggunakan kompor listrik ini memang hemat serta aman,” imbuhnya. (*/jay)

Sumber »

Must Read

Related News