26 C
Sidoarjo
BerandaSidoarjo RayaHanya Ditunjukkan Foto Kopi SK Gubernur, Objek Lahan di Kwangsan Sidoarjo Dijual...

Hanya Ditunjukkan Foto Kopi SK Gubernur, Objek Lahan di Kwangsan Sidoarjo Dijual ke User

SIDOARJO, – Kesaksian Supriyadi, salah satu pembeli objek tanah serta bangunan di atas objek lahan seluas 4.680 meter persegi di Desa Kwangsan, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, cukup mengagetkan.

Hal itu ketika warga Surabaya itu dihadirkan di PN Sidoarjo atas sengketa tanah antara Achmad Afifudin, selaku penggugat dengan Siti Ampriyah, pihak tergugat.

Kehadiran saksi yang dihadirkan pihak penggugat itu secara tidak langsung justru membuka bobrok penggugat saat transaksi jual beli antara penggugat dengan para user di atas objek lahan tersebut.

“Saya beli dari Pak Afifudin. Saya salah satu user yang menempati lahan tersebut di blok C nomor 6A. Saya tidak tau kalau lagi sengketa, saya hanya diminta hadir di sini,” ucap saksi dengan polosnya ketika dicecar Ketua majelis hakim Agus Pambudi, Rabu (8/12/2021).

Ketua majelis hakim lantas tidak banyak bertanya disebabkan kapasitas saksi tidak banyak tau. Majelis lali minta kuasa hukum pihak penggugat bertanya. Justru, Arif pihak kuasa penggugat malah pasif, padahal saksi yang dihadirkan itu untuk kepentingannya.

Baca juga :  BENHILL URBAN COLLECTION EVENTHalo Sidoarjo ! Ada acara seru loh dari Benhill untuk ngisi akhi…

meski begitu, saksi Supriyadi lalu melanjutkan memberikan keterangan jika membeli objek serta bangunan tersebut pada tahun 2012 silam pada Achmad Afifudin dengan cara kredit inhouse (skema mekanisme pembayaran rumah pada developer dengan cara mengangsur) selama 10 tahun.

“Saudara waktu membeli apa alas haknya,” tanya Afrizal Kaplale, kuasa hukum tergugat ketika mencecar saksi.

“SK (surat keputusan) Gubernur,” jawab saksi.

Mendengar jawaban tersebut pihak kuasa hukum tergugat langsung mengingatkan saksi supaya berkata jujur disebabkan sudah disumpah.

Mendengar peringatan tersebut saksi langsung menjelaskan, SK Gubernur yang diperlihatkan Afifudin saat jual beli itu hanya berupa fotokopi. “Pernah, hanya foto kopi SK Gub (bukan aslinya),” kata saksi.

Selain itu, saat membeli objek lahan serta bangunan itu keoada Afifudin, saksi juga tidak tau menahu perikatan apa saja yang dilakukan saat itu.

“Jual beli di notaris Hilmi. Detailnya (perjanjian jual beli) kurang faham,” akunya ketika menjawab pertanyaan Monita, kuasa hukum penggugat intervensi.

Baca juga :  NDAWET sik Slurrrawan2 panas2 nang pasar larangan, kurang nek gak ndawet sik nang langganan e…

Kasus perdata yang teregister perkara nomor : 324/PDT.G/2020/PN SDA saat ini cukup menarik disebabkan objek lahan seluas 4.680 meter persegi di Desa Kwangsan, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo diperebutkan tiga pihak.

Pertama, pihak penggugat. Kemudian pihak penggugat intervensi yang notabenya para user yang menempati objek lahan itu. Ketiga, pihak tergugat yang telah membeli objek lahan jauh sebelum piha penggugat pokok serta penggugat intervensi menguasai objek tersebut.

Informasi yang diterima , objek lahan seluas 4.680 meter persegi di Desa Kwangsan, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo tersebut awalnya milik Badjuri dengan alas hak SK Gubernur.

Objek tersebut pada tahun 1982 dijual Badjuri pada Siti Ampriyah (saat ini tergugat) seharga Rp 1,5 juta permeternya. Jual beli itu ada bukti mendukung, termasuk juga tercatat peralihannya di buku leter C Desa Kwangsan.

Objek lahan tersebut yang sudah dibeli Siti Ampriyah (saat ini tergugat) itu tanpa sepengatuannya telah beralih ke Achamad Afifudin (saat ini penggugat). Setelah diusut, objek tersebut dijual oleh Pakar waris Badjuri pada Afifudin pada tahun 2002 silam. Jual beli itu dilakukan 7 tahun setelah Badjuri meninggal pada sekitar tahun 1996.

Baca juga :  Kebahagiaan orang emang beda-beda ya? Gak harus dari harta melimpah atau jabatan yang tinggi….

Ironisnya, setelah objek tersebut dikuasai Achmad Afifudin akhirnya tanah tersebut dijual kavlingan pada para user sehingga tanah tersebut sekarang sudah berdiri banyak sekali bangunan.

Siti Ampriyah sebagai pemilik yang sah akhirnya menempuh jalur hukum pada tahun 2019 lalu. Ia melaporkan perbuatan para Pakar waris dengan dugaan tindak pidana penyerobotan tanah sebagaimana dimaksud 385 KUHP serta Afifudin dengan dugaan tindak pidana memasuki pekarangan tanpa izin ke kepolisian. Atas kasus tersebut sudah ditetapkan tersangka.

Justru, pada November 2020, pihak Achmad Afifudin menempuh upaya hukum perdata di PN Sidoarjo, dugaannya untuk menghambat proses penyidikan. Ia menggugat atas tanah tersebut dengan tergugat Siti Ampriyah dengan perkara perkara nomor : 324/PDT.G/2020/PN SDA.

Tak mau terlewatkan, pihak user yang membeli tanah kavling itu juga ikut masuk melakukan gugatan intervensi. Total ada 11 user sebagai penggugat intervensi.

Sumber »

Must Read

Related News