26 C
Sidoarjo
BerandaNasionalNusantaraEpidemiolog Unair minta PPKM Level 3 Diperketat

Epidemiolog Unair minta PPKM Level 3 Diperketat

SURABAYA – Menjelang libur akhir tahun, pemerintah pusat bakal menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3 secara nasional. Tujuannya untuk mencegah lonjakan angka Covid-19. Pakar epidemiologi dari Universitas Airlangga Dr Windhu Purnomo minta supaya PPKM level 3 diterapkan secara tegas.

Menurut dia, Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) yang mengatur PPKM level 3 lebih banyak imbauan ketimbang larangan. Artinya, pembatasan itu tidak terlalu ketat. Ini berbahaya.

“Masyarakat masih boleh mematuhi atau tidak aturan ini. Padahal, prinsipnya Covid-19 ini menular jika masyarakat banyak melakukan aktivitas yang menimbulkan kerumunan. Rawan penularan melalui droplet,” ujar Windhu di Surabaya, Jumat (26/11).

Windhu menambahkan, sebaiknya penerapan PPKM level 3 tidak harus merata di seluruh daerah. Sebab, ada daerah yang levelnya sudah bagus seperti Surabaya. “Ini dapat sebagai bentuk reward pada daerah yang levelnya bagus. Tapi kalau sudah telanjur ditetapkan ya harus kita jalankan dengan baik,” katanya.

Baca juga :  Mau Daftar di Unesa? Perhatikan 10 Prodi Favorit serta Tips Lolos SNMPTN

Berdasarkan data Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, sebanyak enam kabupaten/kota kini telah nol kasus aktif Covid-19, Kamis (25/11). Wilayah dengan nol kasus aktif Covid-19 di Jatim itu Lamongan, Kota Probolinggo, Kota Mojokerto, Pamekasan, Kota Madiun, serta Kota Blitar.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Jatim Dr Makhyan Jibril Al Farabi mengatakan, tambahan nol kasus aktif Covid-19 ada 23 kabupaten/kota. Kemudian masyarakat yang dirawat akibat Covid-19 di Jatim tersisa 202 orang.

Kasus aktif terbanyak di Kabupaten Mojokerto dengan 14 Penderita. Diikuti dengan Lumajang 12 Penderita, lalu Ponorogo serta Ngawi masing-masing 11 kasus aktif. Sedangkan wilayah yang masih merawat sedikit Penderita yakni Kabupaten Probolinggo serta Kota Batu, masing-masing 1 Penderita Covid-19. Sedangkan Kota Kediri, Situbondo, serta Bondowoso masing-masing merawat dua Penderita aktif Covid-19.

Baca juga :  Istri Sakit-sakitan, Suami Asyik Sama Selingkuhan

“Menurunnya kasus aktif Covid-19 ini disebabkan Satgas pola penanganan Covid-19 sudah sesuai dengan standar WHO,” jelasnya.

Jibril mengatakan, kemampuan testing harian di Jatim cukup tinggi. Nah, banyaknya orang yang menjalankan testing akan mampu mengungkap kasus Covid-19 lebih cepat sehingga dapat segera tertangani. “Begitu juga dengan cakupan vaksinasi di Jatim terus dikejar untuk meminimalkan dampak dari serangan virus,” katanya.

Menurut dia, vaksinasi dosis pertama di Jatim mencapai 22.082.844 orang atau 69.39 persen. Kemudian dosis dua 14.590.828 orang atau 45,85 persen. “Artinya, dapat dibilang saat ini sudah lebih siap jika terjadi lonjakan kasus. Tidak seperti sebelum-sebelumnya,” katanya.

Penerapan PPKM level 3 dimulai pada 24 Desember hingga 2 Januari. Pemprov Jatim telah melakukan koordinasi. “Salah satunya disiapkan 262 posko check point di sejumlah titik di Jatim,” katanya. (mus/rek)

Baca juga :  BRI Jadikan Kelompok Wanita Tani Hidroponik di Bali Jadi Percontohan

Sumber »

Must Read

Related News