31 C
Sidoarjo
BerandaNasionalNusantaraTiga Penagih Pinjol Ilegal di Surabaya Teror Korban Lewat Pesan Ancaman ...

Tiga Penagih Pinjol Ilegal di Surabaya Teror Korban Lewat Pesan Ancaman  

SURABAYA – Tiga penagih utang pinjaman online (pinjol) ditetapkan sebagai tersangka. Mereka aktif menagih utang korban dengan pesan berisi teror serta ancaman.

Ketiga tersangka yang ditahan Anggi Sulistya Agustina, 31, warga Perum Samudra Residence Blok B, Tajurhalang, Bogor; Rendy Hardiansyah, 28, warga Cibungbulang, Bogor; serta Alditya Puji Pratama, 27, warga Jombang, Jatim, tinggal di Surabaya. Terungkapnya kasus bermula sekira bulan Desember 2020. Korban Boy (BSB) mengajukan pinjol di Rupiah Merdeka serta Dana Now.

Kemudian, sekitar bulan Februari 2021 korban sudah melunasi pinjaman di Rupiah Merdeka serta Dana Now. tetapi, pada Juli 2021, korban menerima pesan penagihan dari pinjol KSP Planet Bahagia, KSP Bos Duit, Dana Hebat, serta Lucky Uang. Selanjutnya, korban membuat pengaduan ke Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim.

Menerima laporan, polisi melakukan penyelidikan mulai dari Agustus hingga September 2021. Polisi berhasil menangkap tersangka Anggi di Perum Samudra Residence, Tajurhalang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/10). Juga meringkus Rendy alias Asep di Kelurahan Jatiasih, Bekasi, Senin (18/10).

Baca juga :  Yamaha Fazzio, Teknologi Hybrid Connected Termurah di Indonesia!

Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta mengatakan, modus operandi ketiga tersangka mendapat kuasa dari beberapa perusahaan pinjol. Selanjutnya mereka melakukan penagihan. “Cara penagihan ini dengan mengirimkan SMS atau WA berisi ancaman pada nasabah yang dianggap belum melunasi pinjamannya,” ujar Nico didampingi Kabid Humas Kombes Pol Gatot Repli Handoko, Senin (25/10).

Tersangka Aldy diringkus pada Sabtu (16/10) setelah polisi menindaklanjuti laporan korban pinjol bernama Marzuki. Marzuki melapor disebabkan terus diteror pesan oleh pinjol. Padahal dirinya sudah melunasi utang ke pinjol Kamis (7/10).

Setelah dilakukan serangkaian penyelidikan tersangka Aldy ditangkap di rumahnya Kedinding, Surabaya. Menurut Nico, tersangka Aldy mendapat kuasa dari PT Duyung Sakti yang berkantor di Jalan Satelit Indah BN 8, Kelurahan Tanjungsari, Sukomanunggal, Surabaya untuk melakukan penagihan.

Baca juga :  Nyamar Ojol, Ditangkap saat Antar SS di Rungkut Industri

PT Duyung Sakti sendiri menerima kuasa dari 36 perusahaan pinjol. Di antarany, Untung Cepat, Rupiah Cepat, Pundi Uang, Pinjam Cair, Moneyku, Mau Tunai, Kredit Cash, Gift Tunai, Get Uang, Dompet Share, Dana Charge, Bull Dana, Saku Med, Saku Kilat, Rupiah Aid, Fast Rupiah, Chas Hut, Siap Tunai, Money Pro, Rupiah Express, Gift Tunai, Laju Tunai, Suka Gesit, Ur Money, Uang Saku, Pinjam Dulu, Pinjam Cash, Money Pro, Money Plus, Kredit Kilat, Kredit Dana, Dompet Apple, Dana Maya, Dana Maju, Money Goodshow Dana, serta Money Charge.

Modus operandinya, lanjut Nico, setelah menerima data dari perusahaan-perusahaan terkait nasabah yang tidak membayar, PT Duyung Sakti menunjuk beberapa karyawannya melakukan penagihan. Parahnya, cara penagihan yang dilakukan dengan nada kasar serta teror ancaman pada korban. Seperti hendak menyebarkan data pribadi korban.

Baca juga :  Hyundai HR Muhammad Akan Mulai Beroperasi Bulan Depan

“Tersangka mendapat gaji dari perusahaan perbulan Rp 4,2 juta,” sebutnya. Selain menerima gaji, tersangka juga mendapat insentif 65 persen dari penagihan dalam kurun waktu satu minggu. Tak hanya itu. Tersangka juga mendapat kuota internet perbulannya selama bekerja sebagai desk collection. “Itu semua yang membuat tersangka tertarik menjadi penagih,” tegasnya.

Polisi masih memburu seorang tersangka yang berada di luar negeri. Menurut Nico, PT MJI serta PT DSI merupakan perusahaan pihak ketiga di luar pinjol. Setelah ditelusuri perusahaan tersebut juga tidak terdaftar di Kemenkumham. “Kami telah membuka hotline pada masyarakat. Siapa saja yang merasa dirinya terancam (terkena teror) melakukan pinjaman online, silahkan hubungi 08119971996,” katanya.

Polisi mengamankan barang bukti berupa hasil cetak screen shot percakapan WhatsApp (WA) antara korban (M) serta tersangka, 21 unit ponsel, 14 laptop, 70 buah bungkus kartu perdana dari berbagai provider. (rus/rek)

Sumber »

Must Read

Related News