25 C
Sidoarjo
BerandaNasionalNusantaraWabup Nganjuk serta 12 Saksi Tak Tahu Soal Uang Jabatan

Wabup Nganjuk serta 12 Saksi Tak Tahu Soal Uang Jabatan

SURABAYA – Sebanyak 13 saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum mengaku tak pernah tahu soal aliran uang kasus dugaan jual beli jabatan Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat. Dari 13 saksi tersebut, satu di antaranya Wakil Bupati Nganjuk Marhaen Junaedi.

Marhaen Junaedi menjelaskan, selama ini dirinya tidak tahu banyak mengenai mutasi jabatan yang terjadi di lingkungan Pemkab Nganjuk. Sebab, hak itu merupakan kewenangan penuh dari jabatan Bupati.

“Tugas bupati terkait mutasi jabatan, yang punya kewenangan penuh ialah bupati. Tidak pernah dimintai pendapat serta memang tak ada kewajiban,” katanya Senin (18/10).

Ditanya apakah ia pernah dimintai uang sebagai ucapan terima kasih pada Novi dalam kapasitasnya sebagai pejabat, Marhaen menegaskan dirinya tidak pernah dimintai apa pun oleh Novi. “Tidak pernah,” katanya.

Baca juga :  Persebaya Fokus Latihan Taktik untuk Kalahkan PSS Sleman

Kepala Desa Plandangan Purwoto dalam kesaksiannya menyatakan pernah dihubungi oleh Dupriono, Camat Pace saat itu, yang dilanjutkan oleh salah satu kades. Intinya, supaya menyediakan uang Rp 10 juta sampai Rp 15 juta untuk pengisian perangkat di desanya. tetapi, ia menolak permintaan itu. “Saya tidak mau saat itu,” katanya.

Kesaksian yang sama juga diungkapkan oleh Dedi Wahyu, Kasi Trantib Kecamatan Tanjunganom. Ia mengakui saat itu dirinya minta tolong pada sang camat supaya pos kosong di Kecamatan tersebut dapat diisinya.

Setelah mendapat jabatan yang diinginkannya, ia pun diminta oleh sang camat supaya menyetorkan uang sebesar Rp 40 juta. Ia menyebut, uang itu nanti akan diambil oleh Izza (ajudan Bupati).

“Saya hanya diberitahu jika uang itu nanti akan diambil Izza,” katanya.

Baca juga :  Gondol Uang Perusahaan di Sukomanunggal, Ditangkap di Kalteng

Saat ditanya apakah ia serta 12 saksi lainnya mengetahui uang yang diminta itu ialah permintaan langsung dari Bupati Novi, para saksi termasuk Wabup Marhen menyatakan tidak tahu.

Menanggapi kesaksian 12 saksi itu, Bupati Nonaktif Novi Rahman Hidayat menyatakan jika ia tak pernah memerintahkan para kepala desa untuk minta uang suap jabatan. “Saya tidak pernah memerintahkan para kepala desa untuk minta uang,” tandasnya.

Sementara itu, Riana Rosnawati karyawan PT Tunas Jaya Raya Kekal Group, perusahaan milik ayah dari Bupati Novi, juga sempat memberikan kesaksiannya. Dalam keterangannya, ia menyebut sang bupati pernah minta uang padanya sebesar Rp 1 miliar.

Uang itu, disebut Bupati Novi untuk kebutuhan menjelang hari raya. Saat ditanya apakah dia tahu soal uang yang ada didalam brankas, dirinya mengaku tidak tahu serta tidak pernah melihat.

Baca juga :  Kolaborasi Forum G20 serta G7 Melawan Penyakit Tuberkulosis

“Pernah minta uang Rp1 miliar, katanya untuk keperluan Lebaran. Biasanya minta langsung ke kasir. Tapi disebabkan berhalangan minta ke saya. Biasanya beliau setiap tahun memang minta uang untuk parsel Lebaran yang dibagikan ke karyawan serta sedekah ke anak yatim piatu. Itu biasa beliau lakukan,” katanya.

Selain keempat saksi di atas, 10 saksi lain yang dihadirkan oleh jaksa antara lain Gunawan Widodo PNS Pemkab Nganjuk, Suhartono PNS Pemkab Nganjuk, Hariadi PNS Kecamatan Tanjunganom, Dedi Wahyu PNS Kecamatan Tanjunganom.

Selain itu, Purwoto Kades Blandangan, Pariyono Kades Ngluyu, Rokim Kades Jampes, Ardiansyah PNS Kecamatan Sawahan, Sujito mantan Camat Ngluyu, Puguh Harnoto PNS Pemkab Nganjuk/Baron, serta Bambang Hariyanto mantan Camat Ngetos. (sam/rek)

Sumber »

Must Read

Related News