32 C
Sidoarjo
BerandaNasionalNusantaraWarga Pesisir Kedung Cowek Hadirkan Unta hingga Berebut Jajanan

Warga Pesisir Kedung Cowek Hadirkan Unta hingga Berebut Jajanan

SURABAYA – Ratusan warga Cumpat RW 02 serta 03 Kelurahan Kedung Cowek Kecamatan Bulak nampak memadati jalan perkampungan, Senin (18/10) sore. Mereka nampak berpakaian serba unik kreasi masing-masing.

Beberapa di antaranya ada yang mengenakan pakaian layaknya santri, raja hingga menaiki kuda, perahu serta replika onta. Rupanya ratusan warga pesisir itu sedang menggelar kirab budaya jelang perayaan Maulid Nabi.

Uniknya, hampir separo pesertanya ialah anak-anak. Ada sekitar 550 anak yang ikut dalam tradisi tahunan itu. Mereka berasal dari 11 Taman Pendidikan Alquran (TPA) di dua RW tersebut.

“Tapi ini bukan hanya anak-anak, orang dewasa bahkan yang tua juga ikut. Biasanya mengenakan pakaian hasil kreasinya sendiri,” kata Riyadil Jinan, Ketua Panitia Kirab Maulid.

Baca juga :  Omicron Meningkat, Gubernur minta Aktifkan Kembali Isoter di Jatim

Tak hanya itu, di langit-langit perkampungan nelayan itu, nampak ratusan kerudung berkibar menjadi umbul-umbul. Kerudung warna warni itu menambah elok wajah pesisir Kota Surabaya itu.

Para peserta kirab terlihat berkumpul serta berjalan kaki sejauh tiga kilometer. Mereka berjalan pelan layaknya karnaval. Saat perjalanan, warga mulai penyerbu pinang yang dihiasi berbagai jajanan hingga sejumlah uang.

“Nah, itu jadi rebutan. Jadi warga meloncat berebut jajan serta uang yang digantung di pinang. Tapi enggak terlalu tinggi juga,” ujar Ketua RW 02 Samiadi Santoso.

Saat peserta mulai berjalan, bunyi petasan santer terdengar memecah keramaian di jalan perkampungan itu. Samiadi mengaku, jika tradisi itu sudah ada sejak dulu. Bahkan sejak usianya masih kanak-kanak.

Baca juga :  Penjaga Ketiduran, SMP Hang Tuah I Surabaya Disatroni Maling

meski begitu, kirab budaya tersebut selalu mengikuti perkembangan zaman. Perayaan itu pun akan diakhiri dengan doa bersama selepas maghrib di setiap musala serta masjid di masing-masing RW. meski begitu ada pula warga yang menggelar doa bersama di rumahnya.

“Kalau yang sugih-sugih (kaya, Red) biasanya menggelar doa sendiri. Biasanya ada tradisi udi-udian, yaitu menabur uang. Itu maknanya bersyukur atas limpahan rezeki selama ini,” paparnya.

Salah seorang peserta kirab, Syakur, 46, mengatakan jika tradisi itu memiliki makna yang mendalam. Salah satunya tentang keteladan Nabi Muhammad. Dia berharap dengan tradisi itu, masyarakat serta generasi muda dapat mengikuti jejak sang nabi itu.

“Nabi itu kan suri tauladan. Jadi harapannya warga serta generasi muda terus meneladani nabi supaya berbudi pekerti luhur tinggi,” jelas pria berpeci hitam itu. (far/nur)

Baca juga :  Masih Dibuka!Pendaftaran Gocar untuk Anda yang ingin mendapatkan tambahan penghasilanPastika…

Sumber »

Must Read

Related News