26 C
Sidoarjo
BerandaNasionalNusantaraWali Kota Eri Tegaskan Tidak Ada Klaster Sekolah di Surabaya

Wali Kota Eri Tegaskan Tidak Ada Klaster Sekolah di Surabaya

SURABAYA – Pembelajaran tatap muka (PTM) sudah hampir sebulan digelar di Surabaya. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi membantah kabar adanya klaster sekolah ketika PTM berlangsung.

“Klaster sekolah gak ada. Kemarin yang kena (Covid-19) itu kan yang belum sekolah. Ternyata dia dari luar kota sehingga kita mau gak mau ya nanggung,” tegas Cak Eri, Jumat (8/10).

Tes swab dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya pada pelajar secara berkala. Eri menjelaskan bahwa swab dilakukan pihak sekolah yang menggelar PTM. “Jadi sebenarnya dari sekolah kalau sudah masuk kita berikan swab berkala,” katanya.

Eri menambahkan, siswa yang mengikuti PTM dapat bertambah, dari 25 persen menjadi 50 persen. disebabkan sejak dibukanya PTM boleh mencapai 50 persen per kelasnya. “Dari dulu boleh, cuma kita jalankan 25 persen. Mau jadi 50 persen silakan, tapi tergantung kesiapan sekolahnya,” ujar Eri. “untuk menghindari klasteri sekolah, saya gak berani sampai 50 persen,” tambahnya.

Baca juga :  minta Doa Restu Dihalalkan Vincent Verhaag

untuk memberikan rasa aman bagi siswa, guru, serta tenaga kependidikan, Pemkot Surabaya melakukan asesmen atau evaluasi setiap harinya bagi sekolah yang menggelar PTM. Termasuk sekolah-sekolah yang akan menggelar PTM juga dilakukan asesmen. “Kita lakukan secara acak,” katanya.

Berdasar surat keputusan bersama (SKB) empat menteri, apabila ada siswa yang positif Covid-19, maka dilakukan penghentian PTM sementara di satuan pendidikan yang bersangkutan. Hingga kini sudah ada 138 sekolah dasar di Surabaya yang mengikuti PTM. Sedangkan PTM jenjang SMP diikuti 101 sekolah.

Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur mewanti-wanti pemkot untuk mengantisipasi klaster sekolah. Caranya dengan memperkuat tim mitigasi. Sekolah-sekolah yang menggelar PTM diminta terus meningkatkan kewaspadaan.

Baca juga :  Bikin Geger, DP 0 Sudah dapat Bawa Motor Yamaha All New NMax 155

Ketua IDAI Jatim dr Sjamsul Arief MARS SpA(K) mengatakan, kondisi kesehatan warga sekolah mutlak harus diperhatikan. Khususnya para siswa. Jika ditemukan anak dengan kondisi fisik kurang prima, tim mitigasi sekolah wajib segera bertindak. Misalnya, secepatnya melakukan testing Covid-19.

“Jangan sampai menunda-nunda (testing, tracing). Ini langkah antisipasi secara dini,” ujar Sjamsul.

Jika kemungkinan ditemukan kasus positif, IDAI minta segera dlakukan tracing ke semua warga sekolah. Semua riwayat kontak erat harus ditemukan untuk dilakukan testing. Tindakan itu sangat penting untuk mengetahui sejauh mana riwayat penularan virus di lingkungan sekolah. “Yang terpenting kalau ada kasus positif, sekolah segera ditutup. Tidak boleh ada PTM untuk mencegah kasus yang lebih banyak,” jelasnya.

IDAI merasa prihatin dengan mulai ditemukannya sejumlah kasus baru Covid-19 di lingkungan sekolah. “Saya merasa ngeri. disebabkan apa yang kami khawatirkan mulai terjadi. meski itu terjadi di luar Surabaya,” katanya.

Baca juga :  Dituduh Curi HP, Disabet Celurit, serta Dimassa di Bulak Banteng Kidul  

Menurut Sjamsul, sejak awal IDAI Jatim tidak berani merekomendasikan PTM. Termasuk di Kota Surabaya. meski saat ini tren penyebaran virus sudah melandai, ada kekhawatiran akan munculnya gelombang ketiga. Sjamsul memprediksi gelombang ketiga virus SARS-CoV-2 dapat terjadi pada Desember mendatang. Sebab, saat itu ada sejumlah momen liburan akhir tahun. “meski ini prediksi harus kita antisipasi disebabkan virus mengikuti tingkat interaksi orang,” ungkapnya.

Berdasar data IDAI Jatim, total ada 4.782 anak di Jatim yang terkonfirmasi positif Covid-19. Itu belum termasuk 11 anak yang positif terpapar dalam pekan terakhir. Dari jumlah kasus tersebut, sebanyak 40 anak meninggal dunia disebabkan Covid-19. (rmt/rek)

Sumber »

Must Read

Related News