Sabtu, 15 Mei 2021
29 C
Sidoarjo
Sabtu, 15 Mei 2021

Cabut Telegram Larangan Media, Kapolri: Kami Butuh Masukan Dari Masyarakat

- Advertisement -
- Advertisement -

 

 

Jakarta – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo langsung bergerak cepat mencabut telegram nomor ST/750/IV/HUM.3.4.5./2021 tanggal (5/4/2021) terkait larangan menyiarkan tindakan arogansi aparat kepolisian. Hal itu dilakukan setelah mendengar serta menyerap aspirasi dari kelompok masyarakat.

Sigit menjelaskan, niat serta semangat awal dari dibikinnya surat telegram tersebut. Ia minta supaya jajaran kepolisian tidak bertindak arogan atau menjalankan tugasnya tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.

Oleh sebab itu, Sigit menginstruksikan supaya seluruh personel kepolisian tetap bertindak tegas tapi juga mengedepankan sisi humanis dalam menegakan hukum di masyarakat.

“Arahan saya ingin Polri dapat tampil tegas tetapi humanis, tetapi kami lihat ditayangan media masih banyak terlihat tampilan anggota yang arogan, oleh disebabkan tolong anggota untuk lebih berhati-hati dalam bersikap dilapangan,” kata Sigit dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (6/4/2021).

Sigit menekankan, gerak-gerik perilaku anggota kepolisian selalu disorot oleh masyarakat. Sebab itu, Sigit mengingatkan, satu perbuatan arogan oknum polisi dapat merusak citra Polri yang saat ini sedang berusaha menuju untuk lebih baik serta profesional.

“disebabkan semua perilaku anggota pasti akan disorot, disebabkan sampai ada beberapa perbuatan oknum yang arogan, merusak satu institusi, disebabkan itu saya minta supaya membuat arahan supaya anggota lebih hati-hati saat tampil dilapangan, jangan suka pamer tindakan yang kebablasan serta malah jadi terlihat arogan, masih sering terlihat anggota tampil arogan dalamm siaran liputan di media, hal-hal seperti itu supaya diperbaiki sehingga tampilan anggota semakin terlihat baik, tegas tetapi humanis,” papar Sigit.

Sigit menyatakan, dalam telegram yang sempat muncul tadi ternyata menimbulkan perbedaan penafsiran dengan awak media atau insan pers. Kesalahan persepsi dalam hal ini bukanlah media melarang meliput arogansi polisi dilapangan.

tetapi, menurut Sigit, semangat sebenarnya dari telegram itu ialah pribadi dari personel kepolisian itu sendiri yang tidak boleh bertindak arogan.

“Jadi dalam kesempatan ini saya luruskan, anggotanya yang saya minta untuk memperbaiki diri untuk tidak tampil arogan tetapi memperbaiki diri sehingga tampil tegas, tetapi tetap terlihat humanis. Bukan melarang media untuk tidak boleh merekam atau menhambil gambar anggota yang arogan atau melakukan pelanggaran,” ujar Sigit.

Sigit menegaskan, sampai dengan saat ini, internal Korps Bhayangkara masih memerlukan kritik serta saran dari seluruh elemen masyarakat. Sehingga, peran media sebagai salah satu pilar demokrasi akan tetap dihormati oleh Polri.

Dengan kerendahan hati, Sigit pun menyampaikan permintaan maaf pada seluruh masyatakat disebabkan lahirnya perbedaan persepsi terkait dengan telegram tersebut.

“disebabkan kami Polri juga butuh masukan serta koreksi dari ekternal untuk dapat memperbaiki kekurangan kami. Oleh disebabkan itu, saya sudah perintahkan Kadiv Humas untuk mencabut STR tersebut,” ucap Sigit.

“serta sekali lagi mohon maaf atas terjadinya salah penafsiran yang membuat ketidaknyamanan teman-teman media, sekali lagi kami selalu butuh koreksi dari teman-teman media serta eksternal untuk perbaikan insititusi Polri supaya dapat jadi lebih baik,” kata Sigit mengakhiri. (Mooch)

Sumber »

- Advertisement -
Terkini
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -