Jumat, 16 April 2021
31 C
Sidoarjo
Jumat, 16 April 2021
JatimObsesi Karutan Medaeng Wujudkan Zero Halinar bagi Warga Binaan

Obsesi Karutan Medaeng Wujudkan Zero Halinar bagi Warga Binaan

SUARA sumbang tentang kehidupan para narapidana atau tahanan selama dalam kerangkeng hotel prodeo, tidak membuat surut asa dari Wahyu Hendrajati Setyo Nugroho, 38 tahun. Pria asal Solo yang mendapatkan tugas super berat sebagai Kepala Rumah Tahanan (Karutan) Kelas I Surabaya di Medaeng, sejak Januari 2021.

Uniknya, obsesi untuk mewujudkan daerah zero (bebas) Halinar atau lingkungan bersih dari HP, pungli serta narkoba, setelah menggantikan sang kakak sebagai Plh (pelaksana harian) Karutan Medaeng.

“Ini sudah menjadi komitmen kami. Memang butuh perjuangan sangat berat serta komitmen kuat, menciptakan zero Halinar,” papar Hedra, panggilan akrabnya saat ditemui WartaTranspransi.Com newsroom dari group siberindo.co, akhir pekan, Jumat (5/3/2021).

Bagaimana jurus untuk mewujudkan dari misi yang dianggap mustahil ini? Mantan ajudan Menkumham tahun 2015 ini, harus dimulai dari diri sendiri. Kalau kepala serta orang di bawahnya punya keseriusan serta ikhlas dalam melaksanakan tugas, tidak ada yang berat.

“Kebetulan saya pernah bertugas di Rutan Medaeng, serta Nusa Kambangan hingga menjadi ajudan menteri. Kami bertekad menghilangkan ketergantungan para WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan) dari kerawanan penggunaan HP. Jadi, memutus adanya peluang WBP dapat bebas serta leluasa,” ungkap Hendra.

Baca juga :  Berpotensi Korupsi serta Merugikan Negara, Dugaan Data Fiktif Program PKBM Ditanggapi Bupati Ngawi

Target lain, memangkas pungli dengan mengedepankan pelayanan tanpa biaya. “Saya akui, memang sangat sulit (menghilangkan pungli). Tapi, kalau sudah diterapkan tidak boleh ada layanan berbayar, resikonya tentu ditanggung sendiri,” ulasnya.

Pasca kunjungan H. Bambang DH, anggota Komisi lll DPR dari F-PDIP, menurut Hendra tidak ada yang perlu ditutupi. Sebab, anggota dewan tentu juga memiliki informasi dari bahan tentang keberadaan rutan atau lapas yang ada di lingkungan Pemasyarakatan.

Salah satu jurus penting ialah komunikasi serta terus-menerus melakukan pemantauan serta pengawasan. Dari dialog antarpegawai, serta melibatkan para WBP mulai terbukti meski efeknya, banyak wara binaan yang minta untuk dilayar (dipindah ke Lapas lain).

Permohonan pindah ini, banyak dilakukan oleh WBP yang sebelumnya mendapatkan kemudahan seperti HP atau fasilitas lain yang selama ini menjadi bagian mengganggu dari upaya melakukan perbaikan di lingkungan Rutan Medaeng.

Baca juga :  Evaluasi Kinerja Kejaksaan, Jaksa Agung RI Lakukan Kunker Virtual ke Kejari Lamongan

“Memang bagian dari konsekwensi serta bahan evaluasi. Di Rutan Medaeng ini sudah over kapasitas. Normal 500 WBP yang harus ditampung, volume hunian dapat mencapai 1.800. Maka, diperlukan dialog serta sikap fleksibel tetapi tegas serta tetap dalam koridor membina. Termasuk melakukan sirkulasi hunian dalam kisaran 1.500 – 1.600 hunian,” ujar Hendra.

Adanya pengakuan mantan napi yang mengungkap adanya pungli saat di Rutan Medarng pada tahun 2018, bagi Hendro merupakan tantangan serta sebagai evaluasi guna melakukan perbaikan di lingkungan Rutan Medaeng.

“Khan kejadian tahun 2018, saya belum di sini (Rutan Medaeng). Masih bertugas di Jakarta. Jadi, saya nggak tahu bagaimana praktek pungli terjadi. untuk saat ini, saya dapat memastikan perlahan tapi pasti bakal terwujud kawasan zero Halinar,” tandasnya.

Walaupun penerapan terhadap WBP beda dengan lembaga pemasyarakatan (Lapas), Hendra memulai dari tekad yang dapat dilakukan dengan kolektif (kebersamaan). Salah satu, selama masa pandemic Covid-19 Wartel Sus Berbayar dinonaktifkan, diganti dengan layanan videocall gratis.

Baca juga :  Peresmian “Parang Hill“, Icon Wisata Baru di Magetan

Kegiatan serta pembinaan keagamaan tentu dibatasi dengan banyak menfokuskan pada ketrampilan serta kegiatan yang dapat memberikan tambahan keahlian bagi WBP setelah keluar dari menjalani hukumannya.

“Jadi, dalam hal untuk memberikan pemahaman keyakinan serta kesetiaan terhadap Indonesia serta NKRI bagi napi teroris tentu tidak sama. Di Rutan Medaeng, ada kegiatan kerohanian, ketrampilan tata boga, kerajinan kayu, perikanan, serta musik. Setidaknya, WBP mendapatkan bekal positif.

Diakhir dialog, Hendra berharap alumni Lapas serta Rutan mampu mengubah stigma dapat hidup normal serta diterima di masyarakat melalui pembinaan khusus sebelum masa bebas.

“Kita harus mampu mengubah stigma negatif menjadi peluang untuk berbenah. Harus diakui, adanya pemikiran ketika penghuni pria (suami) masuk menjalani hukuman yang mencari nafkah, istri serta ditambah beban tambahan disebabkan biaya hidup tinggi. Jadi, kewajiban kita menciptakan adanya zero Halinas,” pungkasnya. (mat)

Sumber »

Komentar

Konten Terbaru