/*
*/
Kamis, 21 Januari 2021
30 C
Sidoarjo
Kamis, 21 Januari 2021
Pilkada Serentak 2020 Itulah Putusan Rakyat!

Itulah Putusan Rakyat!

Opini: Catur Oparasyid

GERIMIS mengguyur Padepokan Tentrem Dijogobareng. Resi Kyai hanya termenung mendengar secuil cerita pengalaman Satriobumi di Padepokan Watan Kulon.

Giat pemilihan di Padepokan Watan Kulon telah paripurna. Rakyat sudah melaksanakan kewajiban. Panitia pemilihan dan seluruh pelaksana pendamping sudah menjalankan tugas pokok dan fungsinya semaksimal mungkin.

Para calon pemimpin dan tim sukses pun sudah eksplorasi kecerdasan berstrategi. Berjuang bahu membahu mengumpulkan dukungan terbanyak. Komitmen siap kalah dan siap menang pun disepakati serta janji turut menjaga situasi yang aman dan damai dikibarkan.

“Lha niki sing kalah mboten trimo. Kulo nyuwun saran Resi Kyai biar Kang Rahman mboten panik,” pinta Satriobumi.

Resi Kyai sedikit tersenyum. Kopi hitam di cangkir mungil diseruputnya.

“Satriobumi, bilang ke Kang Rahman ora usah panik. Belajarlah menghargai diri sendiri. Ora perlu mempersoalkan kenopo sing dukungan ne sitik iku gelo dan ora trimo. Kabeh wis ono aturane. Kang Rahman ora usah wedi yen bener lakune. Rakyat iku ora bodoh, iso-iso luwih pinter. Opo maneh soal pilih memilih. Nggak mesti delok sugihe, jabatane, sopo sing dukung.

Kejujuran rakyat saat memutuskan, tak perlu diragukan. Komitmennya pun sangat jelas; antara hati nurani atau menuruti kepentingan pihak tertentu karena kebutuhan. Semua dilakukan tanpa rasa ingin tahu siapa yang terpilih usai perhitungan. Kecuali mereka yang terlibat dalam tim pamenangan.

Monggo diingat! Keputusan rakyat memang sulit ditebak; apalagi diikat lalu ‘dikulak” borongan. Mengapa? Karena tidak semua orang bisa dipaksa berpikir seperti keinginan kita. Meski terlihat diam, rakyat bisa melihat dan merasakan aura dalam diri calon pemimpin. Bahkan mengetahui siapa yang harus dipilih; bibit, bebet dan bobotnya.

Bila ada calon pemimpin raih dukungan kurang maksimal, beranilah merenung sejenak. Cobalah buka kembali catatan strategi, evaluasi dan cermati! Sudahkah rencana terbaik itu terlaksana dengan baik. Benarkah, rakyat sudah merasakan atau menikmati ‘rencana terbaik itu’ sebelum menentukan pilihan!. Ini penting karena rakyat tidak punya kewajiban melapor usai memilih. Kehadirannya di bilik suara hanya mencoblos gambar calon yang diyakini bisa memimpin.

“Nggak perlu harus gelo dan mempersoalkan keputusan rakyat?” Tetaplah tegakkan kepala seperti saat memasuki arena pesta demokrasi. Kontes pemilihan seperti itu, bukanlah lomba meraih amanah rakyat. Namun bagaimana setiap calon pemimpin memiliki kemampuan membangun kepercayaan dan simpati publik. Ini bukan soal kalah menang. Siapa pun calon pemimpin yang pro rakyat memahami hal itu. (Penulis Buku Sidoarjo)

Komentar