Rabu, 2 Desember 2020
28.4 C
Sidoarjo
Rabu, 2 Desember 2020
Pilkada Serentak 2020 Ojo Golput, Iki Pesta Demokrasi

Ojo Golput, Iki Pesta Demokrasi

Opini: Catur Oparasyid

GOLPUT. Golongan Putih. Sebutan itu dilekatkan pada mereka yang tidak datang ke bilik suara untuk melepas hak pilih.

Mengapa golput. Bukankah pilkada itu pesta demokrasi. Pesta rakyat yang selayaknya jadi aktualisasi harapan publik memperoleh pemimpin rakyat yang diinginkan.

Bila sedikit buka catatan, Golput merupakan istilah politik yang menguatkan gerakan protes mahasiswa dan pemuda terhadap pelaksanaan Pemilu 1971. Pemilu pertama di era Orde Baru. Pesertanya 10 partai politik. Istilah “putih” dipakai karena gerakan ini menganjurkan warga yang datang ke bilik suara mencoblos bagian putih di surat suara atau di luar gambar parpol peserta Pemilu.

Merujuk pengertian itu, ternyata telah terjadi pergeseran makna setelah 49 tahun. Siapa pun yang tidak datang ke bilik suara dianggap golput. Padahal ketidakhadiran mereka semata-mata bukan terkait gerakan protes politik.

Atmosfir politik pun sudah berbeda. Ketika lahirnya istilah golput di tahun 1971, benih reformasi belum benar-benar mekar. Saat ini setelah 49 tahun benih itu telah mengembang. Benih reformasi telah menumbuhkan bunga-bunga demokrasi. Kebebasan bicara dan akses informasi secara proporsional sudah terbuka. Bila Pilkada dianggap tidak: jujur, adil, bebas-rahasia dan transparan mekanismenya sudah ada.

Lalu mengapa masih ada potensi golput? Bercermin Pileg 2019. Hasil penelusuran acak, ketidakhadiran di bilik suara terkait beberapa alasan. Ada yang tidak menerima surat undangan. Mereka pun malas datang meski diberi kesempatan mencoblos setelah pukul 12.00.

Para pekerja informal atau buruh harian, lebih memilih mencari rupiah ketimbang datang ke bilik suara. Mereka takut kehilangan pelanggan, ditegur majikan, dan beragam alasan lain. Ada pula yang lebih suka rekreasi atau plesir bareng keluarga serta ratusan alasan lain yang subjektif.

Gerakan Publik
Di antara beragam alasan, ada pemikiran subjektif guru SD di pinggiran kota. Menurutnya, pilkada belum jadi gerakan publik. Rakyat hanya dijadikan objek yang disenangkan sesaat; dikumpulkan untuk mendengar janji setengah palsu; diberi souvenir dan diminta memilih.

Sekilas terasa aneh. Seremonial kecil itu tak mungkin bisa menguatkan publik untuk bergerak ke bilik suara. Andai pun ada yang berangkat, mungkin jumlahnya relatif kecil dan sekedar mengggugurkan janji sebagai pengukut tim sukses.

Selain itu Pilkada seolah kehilangan daya magisnya. Mengapa? Mungkin calon yang diberangkatkan belum merupakan representasi dari keinginan warga lokal. Berbeda dengan pemilihan calon wakil rakyat atau pilihan kepala desa. Kedua kontestasi ini melibatkan warga lokal dan mampu menstimulan gerakan publik. Tidak sebatas euforia.

Bila ingin menjadikan Pilkada sebagai gerakan publik, mungkin perlu ada revitalisasi pola penyelenggaraan dan tata cara penetapan calon. Ini sudah ranah para politisi dan pembuat kebijakan. Bila mungkin ada komponen publik yang dilibatkan secara sinergis.

Mengingat pemimpin yang amanah dan berkualitas selalu lahir dari kuantitas pemilih yang amanah dan berkualitas pula. Bukan pemilik hak suara yang sengaja melalaikan kewajiban dan berteriak saat kepentingannya terabaikan. (Penulis Buku Sidoarjo)

Komentar

Muhdlor Ali

Konten Terbaru

Wajik tetel sepasang…

Wajik tetel sepasang Chat ---> WhatsApp : 087702876369

Kepala BNPB akan Tinjau Kondisi Lumajang Selesai Erupsi Gunung Semeru

Doni Monardo Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan meninjau langsung kondisi beberapa daerah di Lumajang, yang terdampak erupsi Gunung Semeru, sore nanti, Rabu...

Posted @withregram • @juliyanti7788 Pengen mencoba rasanya seperti apa masakan …

Posted @withregram • @juliyanti7788 Pengen mencoba rasanya seperti apa masakan khas thailand satu ini, ternyata enak serta wangi, apalagi pas digoreng wanginya dimana²😁😘 . . . AYAM PANDAN @juliyanti7788...

Info sehat, ﷽⁣ Ada beberapa cara dalam mencuci buah serta sayuran supaya terhindar dari pestisida⁣ 1. Air Cuka⁣…

﷽⁣ Ada beberapa cara dalam mencuci buah serta sayuran supaya terhindar dari pestisida⁣ 1. Air Cuka⁣ 2. Soda Kue⁣ 3. Air Kunyit⁣ 4. Bubuk Garam⁣ 5. Kupas Kulit⁣ ⁣ __________________________⁣ ___________________⁣ Sharing Time⁣ ⁣ Setiap hari...

Jangan Lewatkan

Dinamika Politik Sidoarjo Ambyar

Opini: Catur Oparasyid TSUNAMI Politik. Dinamika Pilkada Serentak Sidoarjo 2020 ambyar. Gerakan ketiga pasangan calon (paslon), seolah tak lagi terstruktur. Andai boleh menduga, tim sukses...

Pilkada, Kontes Kepercayaan bukan Popularitas

Opini: Catur Oparasyid OPTIMISTIS! Itulah kondisi internal masing - masing partai pengusung, pasangan calon yang ingin meraih kursi Pendopo Satu. Namun di luar itu ada...

Pribadi Prorakyat

Opini:  Catur Oparasyid PILKADA Sidoarjo tinggal menghitung hari.  Sekitar 120 jam lepas bulan november 2020, seluruh tahapan pencitraan dihentikan. Gambar para paslon dicopot. Trotoar jalan...

Amanah: ‘Diminta atau Dibeli?‘

Opini : Catur Oparasyid ADA yang bilang politik itu kotor, licik, sarat muslihat, bahkan berpotensi menumbuhkan benih anarkhis dan provokasi. Wow!. Benarkah tu juga...