Kamis, 3 Desember 2020
25.9 C
Sidoarjo
Kamis, 3 Desember 2020
Pilkada Serentak 2020 Pilkada, Kontes Kepercayaan bukan Popularitas

Pilkada, Kontes Kepercayaan bukan Popularitas

Opini: Catur Oparasyid

OPTIMISTIS! Itulah kondisi internal masing – masing partai pengusung, pasangan calon yang ingin meraih kursi Pendopo Satu. Namun di luar itu ada realitas sedikit berbeda. Laju kendaraan politik yang dikomando partai secara umun terasa melambat.

Bersyukurlah ada relawan, tokoh dan komunitas-komunitas publik yang masih memiliki loyalitas karena ikatan premordial; adanya riwayat kebersamaan yang tidak memungkinkan pindah ke lain hati: dan ada yang merasa setia tanpa batas sebagai wujud pengabdian terhadap partai. Bukan semata – mata calon yang diberangkatkan ke arena Pilkada.

Sahabat. Dia politisi senior dan pernah eksis di era pemerintahan Win Hendrarso. Di mata hatinya, Pilkada Sidoarjo 2020 kali ini sangat berbeda. Dengan segala keterbatasan, para calon bupati meminta dukungan publik.

Keterbatasan? Coba telusuri, ketiga calon bupati itu belum memiliki akar politik alias basis publik kuat di Sidoarjo! Andai mereka mengandalkan mesin partai bisa jadi ibarat makan buah simalakama.

“lho kok gitu?”

Sahabat sedikit tersenyum. Perlu kamu ketahui. Kekuatan dan nafas kehidupan partai politik di daerah itu adalah anggota yang loyal. Mereka inilah yang dari waktu ke waktu memelihara citra positif partai di masyarakat. Menguatkan ikatan tali silahturahmi antar simpatisan. Jadi pelepas kegalauan bila para konstituen terjebak ragam persoalan.

Inilah jembatan paling pas bagi calon bupati untuk memperkenalkan diri atau membangun kepercayaan publik. Boleh saja jika ingin jalan lain atau turun gelanggang tanpa orang-orang yang sudah memiliki kedekatan dan dipercaya publik itu. Tapi hasilnya akan beda.
“Beda? Bisa dijamin menang bila menggunakan jembatan itu komandan?

Sahabat kembali tersenyum.

Potensi kemenangan bisa diperoleh semua paslon. Namun tidak semua percaya pentingnya jembatan itu. Paslon adakalanya lebih suka pilih jalan pintas dan ingin langsung bertemu dengan para penopang jembatan alias pemilik suara atau hak pilih.

Inilah yang seringkali jadi bumerang. Rakyat itu sudah cerdas. Pertemuan langsung tanpa dikawal politisi yang telah memiliki basis publik bukan pilihan terbaik. Boleh percaya atau tidak, politisi itu lebih memahami pola komunikasi yang pas dengan berbagai komunitas publik. Bila calon pilih jalan pintas, perkenalan singkat hanya membangkitkan euforia yang menyenangkan paslon.

Bambang Haryo dan Taufiqulbar pernah membangun komunikasi politik saat pemilihan anggota DPR; tingkat nasional dan lokal. Namun perolehan suara keduanya belum maksimal. Begitu pula Mas Kelana dan Dwi Astutik. Riwayat perjuangan politik dan kiprahnya di Sidoarjo belum terlalu lama. Menguatkan citra positif partai pengusung dan potensi jaringan komunitas perempuan merupakan bekal utamanya.

Satu lagi paslon muda Gus Muhdlor Ali. Putra Gus Ali Masyhuri pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat ini belum pernah mencicipi suasana kompetisi pemilihan di ranah politik. Modalnya bisa jadi, para santri, wali santri dan jamaah pengajian rutin di Pesantren Bumi Sholawat. Plus citra sebagai putra daerah.

Berbeda dengan pendampingnya, Subandi. Pentas pemilihan kepala desa dan ‘perebutan’ kursi di parlenen sudah dinikmati. Di kedua laga yang mengandalkan kekuatan citra diri, menuai hasil positif; Dia pernah jadi kepala desa, Ketua Komisi A DPRD dan peraih dukungan suara terbanyak.

“Komandan, kira kira siapa yang dapat dukungan terbanyak dan terpilih?”

Pilkada ini kontes perebutan kepercayaan publik bukan lomba popularitas. Rasa percaya itu pijakan: tahu dan dikenal bibit, bebet dan bobotnya (3B). Jadi tidak sekadar tenar dan populer. Siapa pun yang telah berjuang mendekati rakyat dan dikenal 3B-nya itulah yang terpilih. (Penulis Buku Sidoarjo)

Komentar

Muhdlor Ali

Konten Terbaru

Presiden Kirim 18 Nama Calon Anggota Ombudsman Republik Indonesia 2021-2026 ke DPR

Joko Widodo Presiden sudah mengirim surat pada DPR RI, terkait hasil seleksi calon Anggota Ombudsman Republik Indonesia periode 2021-2026.Pratikno Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) mengatakan,...

Syahrul Yasin Limpo Jabat Menteri Kelautan serta Perikanan Ad Interim

Pratikno Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) menerbitkan surat penunjukan Syahrul Yasin Limpo Menteri Pertanian (Mentan) untuk mengisi posisi Menteri Kelautan serta Perikanan sementara waktu.Syahrul Yasin...

Pj. Bupati Sidoarjo, Dr. Hudiyono, M.Si membuka kegiatan peningkatan SDM bagi pengurus DPC SP/S…

Pj. Bupati Sidoarjo, Dr. Hudiyono, M.Si membuka kegiatan peningkatan SDM bagi pengurus DPC SP/SB di Tanjung Plaza Hotel Prigen, Pasuruan, Rabu (2/12). Kegiatan selama...

Uni Eropa Berikan Bantuan Rp342 miliar untuk Sistem Kesehatan di ASEAN

Uni Eropa mengumumkan bantuan senilai 20 juta euro atau sekitar Rp342 miliar untuk mendukung sistem kesehatan serta kapasitas kesiapsiagaan serta tanggap darurat dari mitra-mitra...

Jangan Lewatkan

Pemimpin: Panutan bukan Nunutan

Opini: Catur Oparasyid PADEPOKAN Tentrem Dijogobareng, malam itu terlihat tak seperti biasa. Benderang dengan lima lampu ‘petromak’ yang menyala. “Ojo kaget. Ojo mikir macem -...

Dinamika Politik Sidoarjo Ambyar

Opini: Catur Oparasyid TSUNAMI Politik. Dinamika Pilkada Serentak Sidoarjo 2020 ambyar. Gerakan ketiga pasangan calon (paslon), seolah tak lagi terstruktur. Andai boleh menduga, tim sukses...

Ojo Golput, Iki Pesta Demokrasi

Opini: Catur Oparasyid GOLPUT. Golongan Putih. Sebutan itu dilekatkan pada mereka yang tidak datang ke bilik suara untuk melepas hak pilih. Mengapa golput. Bukankah pilkada itu...

Pribadi Prorakyat

Opini:  Catur Oparasyid PILKADA Sidoarjo tinggal menghitung hari.  Sekitar 120 jam lepas bulan november 2020, seluruh tahapan pencitraan dihentikan. Gambar para paslon dicopot. Trotoar jalan...