Sabtu, 15 Mei 2021
32 C
Sidoarjo
Sabtu, 15 Mei 2021

Salah Tetapkan Pasien Covid-19, “Kebodohan” RSUD Panti Waluyo Madiun

- Advertisement -
- Advertisement -

Oleh: H. Djoko Tetuko Abd. Latief, MSi

Pengurus SMSI Pusat/ Pimred

Ceroboh menetapkan pasien negatif (non reaktif) Covid—19, ketika wafat dinyatakan positif serta dilakukan proses SOP, merupakan pembodohan.

Diketahui, pasien Lasmini (60 tahun), warga Desa Sukorejo, Kecamatan Saradan, Madiun, tersebut hasil swab negatif Covid-19.

Pada saat uji rapid tes setempat atas diri pasien, beberapa saat setelah masuk rumah sakit, Minggu subuh (1/ 11), dinyatakan hasilnya reaktif.

Sementara menurut hasil uji swab, selesai Selasa (3/ 11), oleh laboratorium RSU dr. Sutomo Surabaya, menyatakan pasien bernama Lasmini, negatif Covid-19.

Tetapi sayang, pasien ketika wafat sudah dinyatakan Covid-19, sehingga proses pemakaman dilakukan standar operasional prosedur sebagaimana ketentuan.

Hasil investigasi Transparansi dengan
Bambang Gembik, pihak LSM Garda Terate bersama keluarga pasien.
sekaligus klarifikasi, akhirnya pihak RSUD mengaku melakukan gambling.

Direktur RSUD Panti Waluyo Madiun, drg. Farid Aminudin, didampingi Kepala Bidang Pelayanan, dr. Ali Murtadlo, serta Humas, Yoyok Setyawan, menyatakan penanganan medis menurut protokol kesehatan, pasien yang dicurigai suspect Covid-19, sesuai hasil rapid tes, maka diperlakukan sebagaiana layaknya pasien Covid-19.

drg Farid, berdalih tidak tidak mau kecolongan. Jadi protokol itu kita lakukan dimaksudkan sebagai langkah antisipasi. Pihak rumah sakit tidak salah memperlakukan pasien reaktif seperti pasien Covid-19. Karena aturan mainnya memang seperti itu.

Ada celah sebagai sebuah “kebodohan”, karena dengan tegas menyatakan pihak RSUD Panti Waluyo tidak salah, tetapi tidak menjelaskan apakah sudah melakukan komunikasi dangan pihak RS dr Soetomo Surabaya.

Pembodohan atau memperbodoh (bahasa Inggris: dumbing down) merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan pengurangan tingkat intelektual, secara sengaja terhadap isi dari materi pelajaran & pendidikan, literatur & film, juga berita & budaya.

Gagasan serta istilah dumbing down berawal pada tahun 1933, sebagai bahasa slang yang digunakan oleh penulis skenario film, yang bermakna “Disesuaikan agar menarik bagi mereka yang kurang pendidikan atau berdaya intelektual yang rendah”

Praktik pembodohan juga dilakukan karena ketidakmampuan melakukan langka-langka profesional serta proporsional, seperti membuat pernyataan pasien Covid-19, ternyata hasil swab negatif, serta sakit bukan tanda-tanda terinfeksi virus Corona. Dimana pasien murni sakit berak darah, bukan sesak nafas atau penyakit dalam seperti dialami pasien Covid-19 pada umumnya.

Apakah masuk “kebohongan publik”, jika pihak RSUD tidak segera meralat dengan menyatakan salah karena kurang profesional, juga tidak meralat pemberitaan di media pers dengan mengeluarkan surat keterangan, serta tidak ada berita acara kesepahaman dengan pihak keluarga, maka bisa menjadi fitnah serta itulah “kebohongan publik”.

Kebohongan publik ini sangat membahayakan. Sebab cerita di masyarakat tetap menguatkan bahwa pasien wafat dengan status sesuai pelaksanaan pemakaman, yaitu Covid-19.

Kesalahan sebagai pertanggungjawaban pada Allah SWT, karena tidak memandikan mayit juga tidak mensholati. Padahal dibolehkan dengan ketentuan sesuai protokol kesehatan, maka berdosa terhadap si mayit, serta kesalahan itu menjadi tanggung jawab pihak rumah sakit.

Demikian juga pembiaran terhadap masalah ini, jika tidak segera dibuatkan surat keterangan serta permohonan maaf pada pihak keluarga, maka ketika itu terus menjadi cerita serta fitnah, maka pihak rumah sakit menerima dosa atas penyebarluasan informasi yang salah itu.

Oleh karena itu, kahati-hatian memang dibolehkan, tetapi menyangkut masalah sangat sensitif seyogianya dihindari. Demikian juga upaya menyelesaikan permasalahan ini, bukan sekedar mengembalikan uang dari keluarga pasien.

Tetapi dibuatkan kronologis disertai penguatan peraturan perundangan yang berlaku, kemudian dibuatkan kesepahaman serta melakukan koreksi atau pembetulan atas informasi serta keputusan yang terlanjur salah.

Siapa pun yang salah harus legowo atau dengan tulus membuat pernyataan, serta meminta maaf. Daripada membiarkan kesalahan terus menggelinding menjadi berita salah selamanya. Itulah sebuah “kebodohan” berakibat dosa berjalan, serta harus dihindari. (@)

Sumber »

- Advertisement -
Terkini
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -