Sabtu, 15 Mei 2021
32 C
Sidoarjo
Sabtu, 15 Mei 2021

Ahli Virologi: Teknologi Memungkinkan Penemuan Vaksin Lebih Cepat

- Advertisement -
- Advertisement -

Prof Ngurah Mahardika pendidik besar virologi serta biologi molekuler Universitas Udayana Bali mengatakan perkembangan teknologi saat ini telah memungkinkan pengembangan serta penemuan vaksin yang lebih cepat dibandingkan dengan di masa lalu.

“Dulu harus didapatkan agen murni terlebih dahulu untuk diperbanyak serta itu perlu waktu lama. Sekarang agen pertama lebih cepat ditemukan kemudian diperbanyak secara sintetik, cukup waktu satu bulan atau dua bulan saja,” kata Ngurah alam jumpa pers secara virtual yang ditayangkan akun Youtube FMB9ID_IKP, Senin (2/11/2020).

Proses pengembangan vaksin sangat bergantung pada ragam vaksin yang dipilih. Terdapat beberapa ragam vaksin, yaitu vaksin dari virus murni yang dimatikan, vaksin berbasis gen, vektor adenovirus yang disuntikkan dalam tubuh manusia untuk membentuk vaksin secara mandiri, serta vaksin subunit berbasis protein.

Ngurah mengatakan masing-masing ragam vaksin memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Namun, yang paling lazim digunakan ialah ragam vaksin dari virus yang dimatikan.

“Seperti vaksin Sinovac yang sedang diujicobakan di Indonesia. Regulasi untuk penerimaan akan lebih mudah. Sedangkan ragam vaksin lainnya belum ada contoh yang beredar di masyarakat sehingga dari sisi regulasi akan lebih lama,” tuturnya seperti dilaporkan Antara.

Ngurah mengatakan beberapa penyakit dapat dicegah penularannya menggunakan vaksin. Contoh paling klasik ialah penyakit rabies serta flu.

Penyakit rabies yang berasal dari hewan bisa dicegah penularannya pada manusia melalui vaksinasi pada hewan sebelum terpapar, maupun pada manusia yang berisiko terpapar atau digigit anjing yang membawa penyakit rabies.

Begitu pula dengan flu yang disebabkan oleh virus influenza. Pada kasus flu burung H5N1, Ngurah mengatakan cukup unggas atau hewan saja yang divaksinasi; sedangkan untuk jenis flu yang lain vaksinasi bisa dilakukan pada manusia maupun pada hewan.

“Dua itu ialah contoh klasik, bagaimana vaksin menjadi cara terbaik untuk mengatasi wabah penyakit zoonosis baik pada hewan maupun manusia. Vaksinasi pada hewan bertujuan agar tidak menulari manusia. Jadi dokter hewan mencegah penyakit pada hewan agar tidak menulari manusia sehingga manusia tidak perlu divaksin,” katanya.(ant/iss/ipg)

Sumber »

- Advertisement -
Terkini
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -