Sabtu, 15 Mei 2021
29 C
Sidoarjo
Sabtu, 15 Mei 2021

Ketua Presidium IPW Soroti Pengeroyokan Prajurit TNI oleh Anggota Moge

- Advertisement -
- Advertisement -

JAKARTA – Buntut peristiwa pengeroyokan 2 prajurit TNI oleh anggota motor gede (moge) terus menjadi sorotan. Kali ini, Indonesia Police Watch (IPW) meminta petinggi moge menganggap kasus tersebut masalah kecil, bisa menciderai proses penegakkan hukum.

Dalam kaitan tersebut, Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, meminta Letnan Jenderal (Purn) Djamari Chaniago harus mencabut pernyataannya, yang menganggap kasus pengeroyokan yang dilakukan anggota moge yang dipimpinnya terhadap dua prajurit TNI sebagai masalah kecil.

“Kami (IPW) menilai pernyataan pak Djamari itu sangat tidak mendidik serta sangat mengedepankan sikap arogansi dari seorang pensiunan militer. Seharusnya sebagai pimpinan kelompok moge itu, Djamari meminta maaf pada masyarakat, karena anggota rombongannya sudah berbuat semena mena, tidak hanya pada masyarakat umum di jalanan, tapi juga pada anggota TNI yang dikeroyok,” ungkap Neta S Pane, salam siaran pers yang diterima wartatransparansi group dari siberindo.co, Minggu (1/11/2020).

Lanjut Neta S Pane, sikap Djamari yang arogan itu tidak pantas ditiru serta akan membuat dirinya dicibir oleh masyarakat luas, yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sebagai pensiunan yang seharusnya dihormati publik.

Untuk itu IPW berharap, Djamari sebagai purnawirawan mau berjiwa besar mencabut ucapannya serta meminta maaf pada masyarakat luas, khususnya pada kedua prajurit TNI yang sedang terbaring di rumah sakit akibat dikeroyok anggota masyarakat sipil pengguna moge tsb. Seharusnya Djamhari bisa berkomentar lebih santun serta kebapakan dalam melihat kasus ini.

Belajar dari kasus ini, sudah saatnya para petinggi yang menjadi pimpinan motor gede mengingatkan para anggotanya agar tidak bersikap arogan di jalanan serta tidak bersikap ugal ugalan atau tidak  menjadi raja jalanan seperti geng motor yang banyak dikeluhkan masyarakat.

“Jika pengendara moge bersikap ugal ugalan seperti geng motor bukan mustahil masyarakat akan memberi perlawanan pada mereka serta pengendara moge akan menjadi musuh masyarakat di jalanan,” ulasnya.

Para purnawirawa yang menjadi pimpinan moge jangan mau menjadi bamper serta backing atas keugalugalan anggotanya. Jika tidak, mereka akan dicibir serta tidak dihargai publik. IPW mendesak Polda Sumbar memproses kasus ini dengan Promoter.

Selain dikenakan pasal telah melakukan penganiayaan, pengendara moge itu harus dikenakan pasal berlapis, yakni melawan aparatur negara. serta sebaiknya kasus ini diselesaikan di pengadilan agar ada efek pembelajaran agar pengendara moge tidak bersikap seenaknya ugal ugalan serta pimpinannya tidak arogan atau menganggap sepele persoalan yang ada, yang sudah membuat masyarakat terluka.

Seperti ditulis media, Berdasarkan informasi yang diterima dari lapangan pengeroyokan terhadap dua anggota Intel Kodim 0304/Agam ini bermula saat Serda MY serta Serda Mis berboncengan mengendarai sepeda motor beat sepulang dari Hotel Balkon memonitor kedatangan tamu Kodim.

Kemudian, di perjalanan tepatnya di Jalan Hamka melintas rombongan motor gede yang sudah meminggirkan kendaraan. Akan tetapi beberapa anggota rombongan masih memainkan gas untuk meminta jalan. Sehingga kendaraan Serda Mis serta Serda MY turun ke bahu jalan. Merasa keberatan keduanya mengejar rombongan moge sampai di Simpang Tarok.

Tiba di pertigaan jalan, karena situasi macet Serda MY menghentikan motor di depan salah satu kendaraan rombongan. Saat Serda MY mendekati untuk menanyakan mengapa memotong jalannya, terjadi ribut mulut serta terjadi pemukulan pada Serda MY serta Serda Mis oleh sekelompok anggota moge tersebut. (*/jtm1)

Sumber »

- Advertisement -
Terkini
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -