Kamis, 13 Mei 2021
30 C
Sidoarjo
Kamis, 13 Mei 2021

Kemensos Dukung Penerapan Terapi Seni dalam Pendidikan Difabel

- Advertisement -
- Advertisement -

Kementerian Sosial (Kemensos) mendukung upaya peningkatan kemandirian penyandang disabilitas melalui penerapan terapi seni dalam pelayanan pendidikan serta pelatihan bagi para difabel.

“Ini bisa membangkitkan respek terhadap kondisi kaum yang memiliki kemampuan berbeda. Maka itu, saya menekankan ke Balai Besar/Balai Rehabilitasi Sosial untuk menjadikan art therapy (terapi seni) sebagai kurikulum,” kata Harry Hikmat Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial dalam siaran pers kementerian yang diterima di Jakarta, Minggu (1/11/2020).

“Karena akan ada peningkatan level, bukan sekedar terampil tapi ahli,” ia menambahkan.

Harry menghadiri acara penandatanganan nota kesepahaman antara UKM Creative Business Of Difable Community (CIDCO) serta Artherapy Center Widyatama Bandung dengan Yayasan Komunitas Tionghoa Peduli serta PT Lintas Sinergi Jabarindo dalam program kerja bidang industri kreatif di Artherapy Center Widyatama, Kota Bandung, Sabtu (31/10/2020).

CIDCO serta Artherapy Center Widyatama Bandung menyelenggarakan pendidikan selevel Diploma 3 bagi penyandang disabilitas serta menggunakan pendekatan terapi seni dalam kegiatan pendidikan bagi difabel.

“Ketika penyandang disabilitas masuk di Artherapy Center, mereka akan mendapat sertifikat kompetensi, sehingga mereka mampu bersaing di dunia industri,” tutur Harry seperti yang dilansir Antara.

Kementerian Sosial menyatakan akan mendukung upaya pengembangan pendidikan difabel berbasis terapi seni, antara lain dengan meningkatkan kapasitas Balai Besar/Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas di bawah Kementerian Sosial.

Anne Nurfarina Penasihat Artherapy Center Widyatama serta Ketua Dewan Penasehat CIDCO menerangkan, terapi seni merupakan metode dengan fleksibilitas tinggi untuk membangkitkan kemampuan fitrah penyandang disabilitas.

“Contoh ialah autistik, karena mereka memiliki hambatan di komunikasi. Kami menggunakan metode membangun respons komunikasi agar terjadi interaksi, lalu kami memberikan pengetahuan untuk mengubah stigma bahwa kecerdasan itu bukan hanya jago matematika,” kata Anne.

Sementara itu, Sri Juniati Ketua Pembina Yayasan Widyatama mengatakan bahwa penanganan masalah sosial tidak bisa dilakukan sendiri oleh keluarga serta komunitas, namun membutuhkan dukungan kuat dari pembuat kebijakan.

“Hadirnya Dirjen Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial mempertegas tidak hanya kehadiran fisik, tapi keberlanjutan untuk sekarang serta masa mendatang. Kami berharap para penyandang disabilitas ini bisa semakin mandiri serta menjadi inspirator bagi masyarakat luas,” katanya.(ant/tin)

Sumber »

- Advertisement -
Terkini
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -