Minggu, 16 Mei 2021
29 C
Sidoarjo
Minggu, 16 Mei 2021

Korban ketiga dari serangan pisau gereja Nice bernama “Nadine Devillers”

- Advertisement -
- Advertisement -

Korban ketiga dari serangan gereja Nice bernama Nadine Devillers, 60.

Walikota Nice Christian Estrosi membuat pengumuman di media sosial pada Sabtu pagi.

Dua korban lainnya ialah ibu dari tiga anak Simone Barreto-Silva, 44, serta pekerja gereja Vincent Loques, 55.

Itu terjadi ketika Reuters melaporkan orang ketiga telah ditangkap sehubungan dengan pembunuhan di gereja Notre Dame.

Orang yang ditahan dikatakan ialah warga Nice berusia 35 tahun yang diduga bertemu dengan terduga penyerang sehari sebelum kekejaman itu.

Sumber polisi mengatakan pada Reuters bahwa penangkapan terakhir terjadi pada hari Jumat.

Dua orang yang ditangkap sebelumnya ialah tersangka Brahim Aouissaoui berusia 21 tahun, serta seorang pria berusia 47 tahun yang ditahan karena dicurigai telah melakukan kontak dengan Aouissaoui.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengerahkan ribuan tentara untuk melindungi situs-situs termasuk tempat ibadah serta sekolah setelah serangan itu.

Aouissaoui dilaporkan tidak dikenal oleh dinas keamanan, setelah tiba di Eropa dengan perahu bulan lalu.

Ketegangan meningkat di Prancis seputar kartun Nabi Muhammad yang menurut umat Muslim bersifat ofensif.

Serangan di Nice terjadi hampir dua minggu setelah Samuel Paty – seorang pendidik di Paris – dipenggal kepalanya oleh seorang Chechnya yang berusia 18 tahun setelah menunjukkan pada muridnya sebuah kartun dalam pelajaran tentang kebebasan berekspresi.

Presiden Prancis Emmanuel Macron melihat saat dia berbicara kepada media selama kunjungan ke lokasi serangan pisau di gereja Notre Dame di Nice, Prancis 29 Oktober 2020. REUTERS / Eric Gaillard / Pool
Gambar: Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan negaranya ‘tidak akan memberikan alasan apa pun’

Perselisihan penggambaran Nabi Muhammad telah menyebabkan protes di seluruh dunia di negara-negara seperti Lebanon, Pakistan, Bangladesh serta Somalia, dengan seruan untuk memboikot produk Prancis.

Setelah serangan itu, Presiden Macron mengatakan negara itu telah menjadi sasaran “atas nilai-nilai kami, untuk selera kami akan kebebasan, untuk kemampuan di tanah kami untuk memiliki kebebasan berkeyakinan”.

Sumber » SkyNews World

- Advertisement -
Terkini
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -