Kamis, 13 Mei 2021
30 C
Sidoarjo
Kamis, 13 Mei 2021

Macron Masih Enggan Minta Maaf, MUI Ajak Baikot Produk Prancis

- Advertisement -
- Advertisement -

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak pemboikotan terhadap produk Prancis seiring Emmanuel Macron Presiden yang masih bersikeras tidak meminta maaf pada umat Islam atas pelecehannya terhadap Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam (SAW).

“Memboikot semua produk yang berasal dari negara Prancis serta mendesak pada Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan tekanan serta peringatan keras pada Pemerintah Prancis,” kata KH Muhyiddin Junaidi Wakil Ketua Umum MUI pada wartawan di Jakarta, Jumat (30/10/2020).

Ia meminta Pemerintah Indonesia untuk sementara waktu menarik Duta Besar Indonesia di Paris, Prancis, hingga Macron Presiden menarik ucapannya serta meminta maaf pada umat Islam se-dunia yang melontarkan pernyataan bernada “Islamophobia”.

Muhyiddin mengatakan umat Islam tidak ingin mencari musuh tetapi hanya ingin hidup berdampingan secara damai serta harmonis.

Waketum MUI itu juga meminta Presiden Prancis segera menghentikan segala tindakan penghinaan serta pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW, terlebih Komisi HAM PBB menyebut penghinaan terhadap Rasulullah bukanlah bentuk kebebasan berekspresi.

Ia juga mendukung sikap Organisasi Kerja sama Islam (OKI) yang telah memboikot produk-produk dari Prancis.

“Mendesak pada Mahkamah Uni Eropa untuk segera mengambil tindakan serta hukuman pada Prancis atas tindakan serta sikap Presiden Emmanuel Macron yang telah menghina serta melecehkan Nabi Besar Muhammad SAW,” kata Muhyiddin Junaidi seperti yang dilansir Antara.

MER-C Mengecam

Sementara itu pimpinan presidium organisasi sosial kemanusiaan untuk korban perang, konflik serta bencana alam yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia juga mengharapkan Pemerintah Indonesia dapat segera merespon serta mengambil sikap atas pernyataan Presiden Prancis dengan mendorong permintaan maafnya pada umat Islam.

“Hal ini agar polemik yang dapat menimbulkan perpecahan kerukunan umat beragama tidak berlarut,” kata dr Sarbini Abdul Murad Ketua Presidium MER-C menanggapi pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebutkan Islam ialah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.

MER-C menyayangkan sekaligus mengecam pernyataan Macron itu sebagai pernyataan yang tidak bertanggung jawab serta memecah belah kerukunan umat beragama di dunia

“Kami turut menyayangkan sekaligus mengecam pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Itu ialah pernyataan yang tidak bertanggung jawab. Macron telah menyebarkan kesalahpahaman terhadap Islam. Sebuah penyataan yang dapat memecah belah kerukunan umat beragama di dunia,” katanya Sarbini.

“Macron mestinya bijak dalam menilai Islam,” tambah Sarbini Abdul Murad, dokter pertama Indonesia yang berada di garis depan perbatasan Rafah, Mesir-Palestina saat perang 22 hari Palestina-Israel akhir Desember 2008 .

Ia menjelaskan Macron mestinya bisa belajar dari sosok Vladimir Putin, Presiden Rusia yang bijak dalam melihat Islam. Meski di Rusia terjadi pemberontakan separatis Chechen, tidak berarti Putin menyudutkan Islam secara keseluruhan.

Sementara Macron sebagai orang nomor satu di Prancis memilih membiarkan serta menolak untuk melarang keputusan media di negara tersebut, Charlie Hebdo yang menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad SAW pada September 2020 dengan alasan kebebasan berekspresi, suatu sikap pemimpin negara yang sangat melukai serta menuai reaksi keras dari berbagai kalangan umat Islam di seluruh dunia.

Hal ini berbahaya karena menjadi modus menyebarkan kebencian terhadap Islam.

“Untuk itu, MER-C meminta pada Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk segera meminta maaf pada umat Islam dunia. Kami pikir meminta maaf ialah jalan yang bijak, serta melarang kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW,” demikian Sarbini Abdul Murad.(ant/tin)

Sumber »

- Advertisement -
Terkini
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -