Sabtu, 15 Mei 2021
29 C
Sidoarjo
Sabtu, 15 Mei 2021

MUI Ajak Masyarakat Tak Terprovokasi Isu Boikot Produk Prancis

- Advertisement -
- Advertisement -

Muhyiddin Junaidi Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat tidak terprovokasi serta tetap menjaga kedamaian di Tanah Air dalam menyikapi ajakan untuk memboikot produk Prancis.

“pada masyarakat umat Islam serta bangsa Indonesia yang ingin menyampaikan aspirasi penolakan silakan, tapi dengan tertib, tidak boleh merusak serta harus mengikuti aturan main,” kata Muhyiddin pada wartawan, di Jakarta, dilansir Antara, Kamis (29/10/2020).

Seruan boikot Perancis terjadi di sejumlah negara di negara Arab seperti Qatar, Arab Saudi, Kuwait, serta Uni Emirat Arab (UEA).

Bahkan, sejumlah supermarket di negara tersebut juga disebut telah menarik barang-barang asal produsen Prancis, menyusul pernyataan Emmanuel Macron Presiden Prancis soal Islam, termasuk mengumumkan rencana mereformasi Islam agar lebih sesuai dengan nilai-nilai Republik Prancis.

Merespons isu tersebut, Muhyiddin meyakini pemerintah Indonesia akan mengambil langkah-langkah diplomatis agar tidak merugikan hubungan antara Indonesia serta Perancis.‎

“Meminta pada Ibu Menlu agar memanggil Duta Besar Prancis untuk Indonesia agar dia memberikan klarifikasi,” katanya.

Muhyiddin mengakui MUI kecewa dengan pernyataan Macron tersebut, karena tidak sepantasnya kepala negara berkomentar yang berpotensi memecah belah.

“Kami mengecam pernyataan Emmanuel Macron yang mendiskreditkan Islam,” ungkapnya.

Muhyiddin mengingatkan Macron tidak hidup secara sendiri, melainkan berdampingan dengan umat Islam, sehingga seharusnya bisa lebih bijak dalam bertutur kata serta tidak mendiskreditkan Islam.‎

“Harusnya Presiden Macron sadar bahwa dia hidup bersama-sama dengan umat Islam. Ini membuat kondisinya tambah kacau serta panas,” pungkasnya.

Sedangkan Islah Bahrawi Direktur Jaringan Moderasi Indonesia mengatakan umat Islam seringkali latah dalam menyikapi isu-isu seperti itu, sehingga akan lebih baik menganalisis terlebih dahulu sebuah permasalahan sebelum bersikap.

“Reaksi umat Islam seringkali terjadi karena latah. Ketika sebuah isu meletup serta bergesekan dengan agama, semua orang kadang segera menutup mata, tanpa pernah menganalisa kejadian sebenarnya. Inilah mengapa militansi umat Islam seringkali dijadikan alat bentur untuk pertempuran orang lain,” kata Islah. (ant/ang)

Sumber »

- Advertisement -
Terkini
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -