Jumat, 14 Mei 2021
31 C
Sidoarjo
Jumat, 14 Mei 2021

Toto-Toto ala  Resi Kiyai & Manus

- Advertisement -
- Advertisement -

Opini: Catur Divanes

 

RESI Kiyai turun dari ruang perenungannya. Kepada cantrik santri, dia meminta bertemu Manus,  warga Perdipan Jogotentrem Anyar Kalangan. Secangkir kopi menemani Resi Kiyai duduk di ruang tengah  padepokan, menunggu Manus. Malam terus bergulir menebar dingin.

Lampu oncor bergerak menembus gelap,  menghantar lelaki sederhana tak banyak kata dan lebih suka bekerja itu.

Manus datang. Ucapan salam teriring senyum Resi Kiyai. Tanpa basa-basi sebait tanya meluncur. “Kira – kira kamu tahu apa yang ingin aku bicarakan?.  Tanya itu terasa memecah hening malam. Manus hanya menggeleng.

“Kulo ini hanya santri Resi Kiyai. Belum bisa menebak dengan rasa dan  melihat yang tak kasat mata. Kulo hanya bisa mendengar dari orang  yang terpercaya. Selebihnya kulo belum mampu,”.

“Manus, padepokan ini perlu ditata. Siapa yang layak jadi penanggungjawab. Bisa memimpin. Memahami yang harus dilakukan dan tak gampang tanya jika tak penting,” ungkapnya.

“Sulit Resi Kiyai syaratnya,”.

“Sulit?”

“Begitulah Resi Kiyai. Kecuali dia diberi kebebasan berpikir dan memutuskan. Dia boleh bertanggungjawab dengan caranya sendiri tanpa rasa takut.  Yang penting dia tidak mempermainkan amanah, kesempatan  dan  orang  sekitar yang telah membantu,”

Resi Kiyai termenung. Diseruputnya kopi yang terlihat belum disentuh sejak tadi. Perlahan diletakannya cangkir itu.  “Kenapa dibiarkan dengan caranya sendiri?”

Maaf Resi Kiyai. Kita tak mungkin terlalu mengawasi; seperti menggurui petani  bercocok tanam,  mengajari nahkoda mengendalikan perahu di lautan atau cara menjaring ikan kepada nelayan. Mereka sudah tahu apa yang dilakukan. Biarlah dia bekerja, diikuti prosesnya dan dilhat hasilnya. Bila ada kendala, semua pengalaman pasti digunakan untuk menyelesaikan. Bila ingin cara lain, juga bisa dicoba.

“Maksudnya?”

Jaman pasti berubah. Resi Kiayi bisa membiarkan padepokan ini berkembang, jadi tempat belajar warga sekitar dan berdaya manfaat lebih besar. Membuka kesempatan muda – mudi belajar dan memahami pentingnya pendidikan. Memberi kesempatan emak-emak berkreasi mengolah hasil pertanian dan perkebunan sebagai sumber penghasilan. Bila bergerak dengan baik, semua akan tertata baik. Resi Kiyai bisa Madeg pandhito  dan hanya jadi soko guru wilayah ini.

“Terus siapa yang mengawal perjalanan itu?”

Ada 18 dukuh di sekitar padepokan ini. Memberi kesempatan muda – mudi sekitar pedukuhan adalah keputusan bijak. Generasi lokal perlu diberi kepercayaan menata padepokan ini dan dukuh-dukuh  sekitar agar lebih bermanfaat. Memang butuh sedikit keberanian dan keyakinan; perlu gotong rotong menggiatkan kreativitas – inovasi, peduli membudayakan musyawarah dan mufakat  demi kemanfaatan bersama;  bukan kelompok atau perseorangan.

Mengapa harus muda-mudi lokal? Apa kualitas mereka lebih baik ketimbang pendatang ? Kemampuan tidak pernah lahir dari prasangka baik atau buruk. Kecerdasan dan kecerdikan, selalu mengalir alami dalam diri; tumbuh dan berkembang bersama lingkungan sekitar. Daya manfaatnya bisa dirasakan. Siapa pun itu, kehadirannya selalu menyejukan meski tanpa mengumbar banyak kata.

“Jangan berpolitik!”

Tidak Resi Kiyai. Setiap peristwa penataan wilayah selalu ada potensi polemik. Situasi ini adakalanya dicurigai sarat kepentingan politik. Biarlah anggapan itu mengalir. Namun generasi lokal lebih mengenal  karakteristik pedukuhan bukan dari buku atau cerita orang lain. Mereka merasakan dari hari ke hari bersama keluarga, warga, bahkan kaum urban dari berbagai daerah yang datang dan pergi. Monggo Resi Kiyai jangan pernah takut berubah bila ingin menata padepokan. (Penulis Buku Sidoarjo)

 

- Advertisement -
Terkini
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -