/*
*/
Kamis, 25 Februari 2021
27 C
Sidoarjo
Kamis, 25 Februari 2021
Jatim Pekan Kebudayaan Nasional, Simbol Cultural Resilience Indonesia

Pekan Kebudayaan Nasional, Simbol Cultural Resilience Indonesia

Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud meluncurkan Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020 dengan tema ‘Ruang Bersama Indonesia Bahagia’ secara virtual pada Jumat (23/10/2020). PKN akan berlangsung pada 31 Oktober – 30 November 2020 yang akan datang serta akan dilaksanakan secara virtual mengingat kondisi pandemi Covid-19.

Hilmar Farid Direktur Jenderal Kebudayaan pada sambutannya menyampaikan bahwa PKN ialah pijakan dasar sebagai bangsa dalam menghadapi pandemi.

“Kami memilih istilah cultural resilience, atau ketahanan budaya,” tutur Hilmar.

PKN 2020 akan menjadi sebuah perhelatan kebudayaan tradisi melalui daring yang terbesar di dunia. Terdapat 4791 seniman serta pekerja seni yang terlibat pada PKN 2020. PKN 2020 juga mengusung 27 tema konferensi, 93 pergelaran, serta 1477 lukisan yang dipamerkan secara virtual.

Dalam situasi sulit seperti sekarang ini, banyak kegiatan terhenti serta orang-orang merasakan dampaknya, pernah ada pertanyaan kenapa masih melakukan festival? Bagi Hilmar, jawabannya sederhana, justru di tengah kesulitan ini, kebudayaan harus hadir.

“Dalam pasukan perang, selalu ada orang yang membawa bendera sebagai simbol kehadiran pasukan itu. PKN ini ialah wujud pengibaran bendera itu. Kita tidak tunduk, tetap berkibar di tengah pandemi, kita memperjuangkan eksistensi serta mencari jalan sumbangsih kebudayaan terhadap situasi ini,” terang Hilmar.

Baca juga :  Terkait Kasus UU ITE, Kapolri: Tersangka Sudah minta Maaf Tak Perlu Ditahan

Sei Hartini Koordinator Umum PKN, menyampaikan bahwa PKN ini memberikan ruang ekpresi seni serta budaya pada masyarakat serta sekaligus menggerakkan ekonomi budaya di tengah pandemi Covid-19 serta mewujudkan keberpihakkan pada seniman serta pekerja seni.

Terdapat empat program utama PKN 2020. Yang pertama ialah kompetisi, perlombaan atau pertandingan berbasis Objek Pemajuan Kebudayaan berdasarkan isu yang akan diangkat serta upaya pemajuan kebudayaan, khususnya permainan tradisional. Kedua, konferensi yang berbentuk seminar, kuliah umum, pidato, talkshow, workshop, serta/atau diskusi terpumpun tentang isu yang diangkat serta upaya pemajuan kebudayaan.

Program ketiga ialah pameran, di mana Objek Pemajuan Kebudayaan dipamerkan secara visual serta audio visual. Keempat, ialah pagelaran, yakni pertunjukan seni berbasis Objek Pemajuan Kebudayaan terkait dengan isu yang diangkat serta pertunjukan seni yang menggugah apresiasi seni serta budaya bagi generasi muda.

Baca juga :  Hati-Hati! Penipuan Bantuan Dana Catut BPJS Kesehatan

Sementara Zaino Alif Pegiat seni permainan tradisional menyampaikan bahwa PKN ialah salah satu cara adaptasi kebahagiaan baru. Menurutnya, kegiatan ini memberi kesempatan untuk bisa sama-sama bermain secara virtual dengan anak-anak di seluruh nusantara.

“Seperti egrang, itu dilombakan secara virtual, kan sangat menarik. Ini menjadi obat bagi anak-anak bangsa kita, berkompetisi dengan permainan nasional,” ujar dia.

Pustanto Penanggungjawab Pameran Galeri Nasional mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan peluncuran museum virtual pada 26 Oktober mendatang.

“Walaupun ada kunjungan yang bisa dilakukan secara luring, tapi kuotanya terbatas. Nah, makanya kami optimalkan pada daringnya,” kata Pustanto.

Andi Malewa Pegiat musik jalanan pada kesempatan ini menyampaikan rasa terima kasih pada Ditjen Kebudayaan yang telah melibatkan Institut Musik Jalanan dalam Kongres Kebudayaan. Ini ialah kali pertama musisi-musisi jalanan menitipkan amanah serta harapan, bahwa musisi jalanan punya ‘rumah’ tempat menginduk serta berekspresi.

“Kami terharu diberikan kesempatan 12 penampil, banyak teman-teman musisi jalanan yang belum pernah menginjakkan kaki di Jakarta. Kami juga menampilkan empat kelompok disabilitas,” jelas Andi.

Baca juga :  Gunung Kidul Di Guncang Gempa M 4,7 Terasa hingga Pacitan

Senada dengan Andi, pekerja seni yakni Eko Supriyanto menyampaikan apresiasinya pada Kemendikbud yang terus memperjuangkan PKN. Ia meyakini PKN ialah kesempatan Indonesia untuk menunjukkan optimisme di tengah perjuangan melawan pandemi Covid-19.

“Suatu kehormatan bagi kami, saya terharu,” kata Eko.

“Pada PKN 2020, kami benar-benar tidak diintervensi, serta Ditjen Kebudayaan benar-benar memerdekakan kami para seniman untuk menggagas serta menggarap tradisi dengan cara baru, apalagi dengan metode virtual seperti ini, agar ktia bisa semakin kekinian,” tambah Eko.

Didik Hadiprayitno atau yang dikenal dengan nama panggung, Didik Ninik Thowok juga menyampaikan rasa terima kasihnya pada Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud.

“Ini pengalaman yang baru, bagaimana kami diberi kesempatan diskusi bersama untuk “menjahit” pertunjukkan secara virtual,” jelas Didik.

PKN pertama kali dilaksanakan pada 7-11 Oktober 2019 di Kawasan Istora, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Pada PKN 2019 lalu, ditampilkan 10 kompetisi, 36 sesi konferensi, 125 pertunjukan, 27 pameran, serta 10 workshop budaya yang mencatat pengunjung sekitar 250 ribu orang. (faz/tin)

Sumber »

Komentar

Konten Terbaru