/*
*/
Kamis, 25 Februari 2021
25 C
Sidoarjo
Kamis, 25 Februari 2021
Jatim Alasan Lockdown, Pemkot Sebut Petugas yang Tangani Yaidah Tak Punya Kapabilitas

Alasan Lockdown, Pemkot Sebut Petugas yang Tangani Yaidah Tak Punya Kapabilitas

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui keterangan tertulis mengakui, informasi yang diberikan petugas Dispendukcapil Surabaya pada Yaidah kurang tepat sehingga membuat perempuan itu berangkat ke Jakarta.

Agus Imam Sonhaji Kepala Dispendukcapil Kota Surabaya menyatakan, apa yang dialami Yaidah sebagai warga Lidah Wetan, Lakarsantri, terjadi karena adanya miskomunikasi serta kesalahpahaman.

Menurutnya, Yaidah yang sedang mengurus akta kematian putranya mendapat penjelasan dari petugas yang kurang tepat. Petugas itu, kata Sonhaji, tidak punya kapabilitas menyelesaikan permasalahan Administrasi Kependudukan.

Alasannya, pada Agustus 2020 saat Yaidah melakukan pengurusan akta kematian, Mal Pelayanan Publik di Gedung Siola itu sedang menerapkan lockdown sehingga petugas yang ada terbatas.

“Memang saat itu Mal Pelayanan Publik sedang menerapkan Lockdown, sehingga petugas kami juga terbatas. Karena kebanyakan pegawai bekerja dari rumah,” katanya, dalam keterangan tertulis itu, Jumat (23/10/2020).

Akibatnya, Sonhaji mengklaim, Yaidah salah menangkap pemahaman sehingga pada akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan akta kematian anaknya itu dengan bertolak ke kantor Kemendagri di Jakarta.

Baca juga :  Ini yang Dilakukan Sheraton Mustika Yogyakarta Resort and Spa Hadapi Pandemi

“Sebenarnya proses input nama yang bertanda petik ke SIAK dapat diselesaikan oleh Dispendukcapil. Progres itu juga dapat di-tracking melalui pengaduan beberapa kanal resmi Dispendukcapil,” kata Agus.

Selain itu, Sonhaji mengklaim, surat permohonan Yaidah sebenarnya sudah diproses registrasi di kelurahan serta berlangsung sukses. Permohonan itu sudah masuk ke sistem klampid di Dispendukcapil.

“Sudah sukses sehingga Bu Yaidah atau pemohon mendapatkan e-Kitir atau tanda terima yang dilengkapi barcode,” kata Sonhaji.

Sonhaji bilang, ketidaktahuan yang membuat Yaidah memutuskan mengurus akta kematian itu ke Jakarta pada 23 September. Sampai akhirnya Yaidah memutuskan agar proses pengurusan yang rumit itu diberitakan di media massa.

Sonhaji kembali menyatakan, ketika keluhan Yaidah muncul dalam pemberitaan di Radio Suara Surabaya serta PortalSidoarjo.com, sebenarnya akta kematian putra Yaidah sudah selesai tercetak satu bulan sebelumnya.

Baca juga :  KAI Daop 8 Surabaya Batalkan Perjalanan 6 KA Jurusan Jakarta disebabkan Bekasi Masih Banjir

“Meski begitu kami tetap menyampaikan permohonan maaf pada Bu Yaidah atas miskomunikasi ini. Kami minta maaf. Ini sebagai evaluasi catatan bagi kami agar ke depan lebih maksimal dalam melayani,” tutur Agus.

Sonhaji yang pernah menjabat Kepala Dinas Komunikasi serta Informatika (Diskominfo) Surabaya itu memastikan akan mengintensifkan layanan informasi call center Dispendukcapil Surabaya.

Dia berharap, lewat call center yang akan diintensifkan itu, kalau ada warga yang masih bingung mengenai proses administrasi kependudukan mendapatkan solusi yang tepat.

“Kami sudah menyempurnakan mekanisme keluhan serta proses pengaduan pada layanan pengaduan resmi agar respons penanganannya bisa semakin cepat serta tepat serta dapat di-tracking progresnya,” jelas dia.

Berkaca dari pengalaman ini, dia mengimbau masyarakat yang mengalami kendala atau masalah saat mengurus Adminduk agar melapor ke channel pengaduan resmi Dispendukcapil Surabaya.

Baca juga :  Industri Pariwisata Indonesia Siap Gunakan GeNose C-19

Pengaduan serta permohonan penelusuran proses pengurusan Adminduk itu bisa diakses lewat telepon di call center Dispendukcapil di nomor 031-99254200 atau menulisnya di laman dukcapilsapawarga.disdukcapilsurabaya.id.

Perlu diketahui, Yaidah sampai berangkat ke Jakarta karena sudah tidak tahu harus mengadu ke mana. Dia mengaku proses akta kematian itu sangat lama, sementara batas akhir penuntasan persyaratan pencairan klaim asuransi putranya sudah semakin dekat.

Dia nekat berangkat ke Jakarta karena menerima penjelasan tidak ramah dari petugas Dispendukcapil yang dia temui di Mal Pelayanan Publik, bahwa penuntasan masalah tanda petik nama almarhum putranya harus dengan konsultasi ke Kemendagri.

Selain itu, ketika dia menanyakan perkiraan waktu kapan Akta Kematian itu sudah tercetak, petugas itu dengan nada yang tidak ramah menjawab waktunya akan lama. Petugas itu membandingkan dengan pengajuan Adminduk pada bulan Juli yang belum tunas.(den)

Sumber »

Komentar

Konten Terbaru