Jumat, 14 Mei 2021
31 C
Sidoarjo
Jumat, 14 Mei 2021

Daring, Goethe Institut Hadirkan Science Film Festival di 24 Kota di Indonesia

- Advertisement -
- Advertisement -

Goethe-Institut, kembali hadirkan acara tahunan Science Film Festival, di tengah pandemi Covid-19 secara daring di 24 kota di Indonesia termasuk Kota Surabaya. Dengan tema pilihan target Pembangunan Berkelanjutan.

Festival tahun ini bermaksud mengajak siswa berusia 9-14 tahun untuk menjelajahi berbagai isu dibalik target Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui karya film-film serta berbagai demonstrasi eksperimen sains yang menyenangkan.

September 2015, 193 negara memutuskan untuk bersama-sama mengimplementasikan 17 target Pembangunan Berkelanjutan serta 169 capaian hingga tahun 2030 untuk membuat dunia kita menjadi lebih baik.

Visi ambisius sebuah dunia yang memungkinkan kehidupan yang baik bagi semua orang, dunia tempat sumber daya yang memadai dapat diakses oleh semua serta digunakan secara adil, dengan pelestarian alam sebagai aspek krusial. Implementasi target-target tersebut dimaksudkan untuk memastikan bahwa planet kita masih layak hidup untuk generasi-generasi mendatang.

“Bekerja sama dengan Program Lingkungan PBB (UNEP), Science Film Festival menyoroti berbagai isu di balik target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Melalui seleksi internasional film-film menghibur mengenai sains, teknologi serta lingkungan, festival ini membantu memperluas percakapan tentang isu-isu sentral SDGs. Melalui percakapan ini, festival ini juga hendak menciptakan peluang bagi kita untuk bertindak serta berpartisipasi secara langsung membuat umat manusia serta planet kita menjadi lebih baik,” terang Dr. Stefan Dreyer, Direktur Regional Goethe-Institut untuk Asia Tenggara, Australia serta Selandia Baru dalam konferensi pers virtual, Selasa (20/10/2020).

Didukung sejumlah mitra loyal, termasuk Kedutaan Besar Republik Federal Jerman, inisiatif “Sekolah: Mitra menuju Masa Depan (PASCH), Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, serta Universitas Paramadina, Science Film Festival 2020 di Indonesia akan memutar 15 film dari Chile, Jerman, Indonesia, Myanmar, Spanyol, serta Thailand yang telah disulihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia. Festival ini juga menyediakan bahan ajar serta eksperimen sains yang disarankan untuk kegiatan pembelajaran yang terkait dengan tema tahun ini yang menjadi pelengkap untuk filmfilm yang ditayangkan.

Film-film terpilih itu dijadwalkan diputar secara bergantian lewat platform daring pada siswa-siswi di 24 kota, mulai dari Ambon, Denpasar, Bandung, Bogor, Bondowoso, Jakarta, Jayapura, Kupang, Malang, Manado, Mataram, Matauli Pandan, Maumere, Medan, Pontianak, Salatiga, Sidoarjo, Sorong, Supiori, Surabaya, Tangerang, Tomohon, Waingapu, serta Yogyakarta.

Dr. Peter Schoof, Duta Besar Luar Biasa serta Berkuasa Penuh Republik Federal Jerman untuk Indonesia, ASEAN serta Timor Leste menyatakan bahwa Jerman memiliki komitmen kuat terhadap SDGs serta secara intensif mendukung proses perumusan SDGs. Baik Indonesia maupun Jerman telah meraih berbagai pencapaian sejak SDGs disepakati, khususnya dalam hal peningkatan kesetaraan serta kualitas kehidupan.

“Tetapi perjalanan untuk mencapai SDGs secara penuh masih panjang. Kami percaya pada nilai penting berdialog serta berbagi strategi sukses. SDGs ialah target bersama yang disusun oleh berbagai bangsa, serta mustahil dicapai sendiri-sendiri,” tegas Peter Schoof.

Inger Andersen, Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP), dalam kesempatan terpisah mengucapkan bahwa untuk mencapai ambisi kolektif tersebut, kita harus menggunakan semua perangkat yang tersedia guna menciptakan kesadaran akan target-target itu.

“Setelah maksud SDGs serta maknanya bagi kemanusiaan serta generasi mendatang dipahami dengan baik, barulah kita dapat membangun tekanan politik yang diperlukan untuk menghadirkan perubahan. Program Lingkungan PBB bangga dapat bermitra dengan Goethe-Institut untuk penyelenggaraan Science Film Festival 2020, yang temanya tahun ini berkontribusi memupuk pemahaman ini,” ujar Inger Andersen.

Sejak edisi perdananya di Thailand pada tahun 2005, Science Film Festival konsisten mempromosikan literasi sains pada generasi muda di Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika Utara, Amerika Latin, Afrika Sub-Sahara, serta Timur Tengah melalui komunikasi berbasis pengetahuan yang menghibur. Science Film Festival diperkenalkan serta diadakan di Indonesia pada tahun 2010 seiring dengan upaya ekspansi regional festival pada masa itu.

Dalam perjalanan waktu, festival ini telah mengukuhkan diri sebagai acara terbesar didunia dalam kategori ini, dengan lebih dari satu juta pengujung di 23 negara selama edisi tahun 2019, termasuk lebih dari 122.000 pengunjung di Indonesia. Festival tahun ini diselenggarakan secara internasional di 30 negara.(tok/iss)

Sumber »

- Advertisement -
Terkini
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -