/*
*/
Kamis, 25 Februari 2021
25 C
Sidoarjo
Kamis, 25 Februari 2021
Pilkada Serentak 2020 Pilkada - Kompetisi Berhadiah Kursi Bupati?

Pilkada – Kompetisi Berhadiah Kursi Bupati?

Opini: Catur Divanes

BOLEH percaya dan tidak! Pilkada merupakan ladang investasi kepercayaan bagi partai politik dan petugas partai serta siapa pun yang ingin berkarir di jalur politik. Jangan merasa dibutuhkan oleh calon bupati – wakil bupati, karena menggunakan atau meminjam kendaraan politiknya. Bekerjasamalah meraih kepercayaan publik, karena keputusan rakyat hari ini bisa berbeda dengan hari kemarin. Rakyat jauh lebih rasional dan sulit diprediksikan.

Warung Kopi Kanggo Riko Desa Kemiri. Ada secangkir kopi tanpa gula menemani ngobrol bareng mantan calon wakil bupati Gresik. Pertemuan tak sengaja itu, menginspirasi tulisan ini. Pilkada sejatinya tidak serumit yang dibayangkan. Hanya saja, tidak semua orang yang terlibat rela menjaga loyalitas. Dulu, sebelum berangkat ke arena ‘pesta demokrasi’, saya menganggap partai politik itu seperti gerbong pasukan militer yang wajib taat perintah satu komando. Ada sanksi jelas seperti militer, tegas dan tiada kebijakan bila sudah terbukti salah.

Ternyata tidaklah demikian. Ada realitas yang berbeda. Belum semua pekerja politik atau petugas partai menganggap loyalitas sebagai aktualisasi komitmen. Padahal  bermain di arena politik wajib memiliki keberanian itu. Bila tak punya  jangan pernah berkarir di jalur politik.

Loyalitas memang bukan hal sederhana. Itu potret hidup kita. Selain bersifat personal, selalu ada beban yang bermuara pada kepentingan dan kebutuhan, takut ‘terjerat’ resiko atau ragu mengambil keputusan berbeda.

Boleh direnungkan. Pilkada bukan sekedar kompetisi berhadiah kursi bupati. Kontestasi ini merupakan pertaruhan eksistensi partai. Tak ada alasan memprovokasi diri atau bersikap tidak mendukung. Siapa pun layak bertanggung jawab terpilih tidaknya calon yang diberangkatkan. Pasalnya petugas partai bukanlah penonton saat calon bupati  dan wakil  berjuang meraih dukungan suara.

Terpilihnya pemimpin rakyat merupakan bukti solidnya kinerja partai. Mantapnya kerjasama calon kepala daerah, para wakil rakyat, tokoh masyarakat, seluruh pekerja partai dan seluruh komunitas pendukung; dipastikan berdampak positif; menggiatkan program pembangunan dan sinergi kinerja pemerintahan secara umum.

Keunggulan perolehan dukungan di arena pilkada, adalah wujud legalitas kepercayaan rakyat. Bahkan terpilihnya kepala daerah dan wakil,  boleh dimaknai tingginya kepercayaan publik kepada partai politik pengusung atau pendukung. Ini sebuah investasi kepercayaan yang perlu dijaga terus menerus. Kepercayaan publik akan langgeng, bila pekerja partai berani berkomitmen dan menjaga warwah partai tanpa kenal waktu.

Ada lembaran hidup yang terlupakan. Setiap pekerja partai berkewajiban mendampingi rakyat saat menggunakan hak politiknya?. Termasuk  tanggung jawab memperkenalkan calon pemimpin kepada rakyatnya.  Kini sudah saatnya semua pihak memfasilitasi kebutuhan rakyat tentang hal itu.  Giat pendampingan ini wujud loyalitas terhadap rakyat, partai dan negeri ini.  Mengingat, kepala daerah turut menentukan kelangsungan hidup; sejahtera, mandiri, aman, tertib dan nyaman.  Termasuk mengembangkan kreativitas dan inovasi demi kebaikan bersama.

Rakyat akan selalu melihat dan merasakan. Sebesar apa kerelaan pekerja partai memperjuangkan nasib rakyat dan mendamping pemerintah menjalankan roda pemerintahan pro rakyat. Termasuk saat gelaran pesta demokrasi pemilihan kepala daerah. Jangan berharap rakyat mempertimbangkan kemauan pekerja partai,  jika keinginan rakyat tidak didampingi saat mengenal  calon pemimpinnya. (Penulis Buku Sidoarjo)

Komentar

Konten Terbaru

Jangan Lewatkan