Rabu, 21 Oktober 2020
32.1 C
Sidoarjo
Rabu, 21 Oktober 2020

Mengapa Harus Memilih?

Opini: Catur Divanes

KEWAJIBAN siapakah mengajak rakyat datang ke bilik suara dan memilih? KPUD, Calon Bupati – Wakil Bupati,  Partai Politik atau Presiden yang telah dipilih masyarakat secara  melalui proses  politik! Jawaban beragam saat komunitas publik, warga penghuni perumahan menengah atau orang – orang yang biasa nongkrong di warung kopi  atau kafe diajak ngobrol.

Bagi sebagian orang, Pilkada, Pilkades, Pileg dan Pilpres dianggap hajatan rakyat yang difasilitasi penerintah.  Oleh karena itu sudah selayaknya  rakyat  hadir. Secara sukarela  menunaikan kewajiban sebagai warga  negara. Tak salah anggapan seperti itu. Begitu pula saat ada pemikiran lain. Pemilihan bupati merupakan uji keberanian rakyat menentukan sikap. Siapa pun terpilih dialah pemimpin yang lahir dari rahim nurani rakyat .

Baca juga :  14 MWC NU Sidoarjo Belum Tentukan Sikap di Pilkada 2020

Keputusan rakyat pun tak layak dipertanyakan atau dipaksa diputar kembali. Setiap pemilih wajib bertanggung jawab atas pilihannya. Penguasa dan pekerja partai sebagai pemilik tiket ke arena pilkada, KPUD sebagai penyelenggara hajatan, pemerintah sebagai fasilitator dan siapa pun penggerak mobilisasi perolehan suara, wajib berkomitmen selaras tupoksi masing-masing. Tak perlu saling merecoki atau intervensi demi memaksakan keinginan atau kepentingan kelompok.

Pilkada jujur, adil, bebas dan rahasia biarlah mengalir seperti air yang mendinginkan suasana sekitar,  menumbuhkan pohon demokrasi, menguatkan ranting-ranting gotong royong dan mensuburkan ketenangan rakyat. Ketenangan menggali sumber penghasilan dan menikmati rutinitas hidup secara berkesinambungan.

Sudah biasa bila di ruang publik ada ragam pemikiran berbeda. Seperti ketika lelaki muda  mengumpamakan demokrasi bagai kertas penuh warna, tak ada goresan tinta kecuali kata kebebasan. Itulah yang  dirasa kaum muda. Bagi mereka, selama tidak melanggar hukum, provokasi fitnah dan diskriminatif,  tak ada  larangan beraktivitas apa pun. Perlu diakui, kini  kebebasan telah menguatkan warna demokrasi dan reformasi,  ditambah lagi jejaring sosial berbasis IT alias teknologi informasi turut andil.

Baca juga :  Tinggalkan PKB, Relawan Sahabat Mas Iin Berpaling ke Kelana

Mengapa Memilih?

Rakyat memang harus memilih. Ini bukan sekedar soal hak atau kewajiban, namun  kebutuhan hidup yang tak bisa diabaikan. Jangan remehkan pesta demokrasi pemilihan kepala daerah, wakil rakyat atau presiden; termasuk Pilkades. Mengapa? Tangan-tangan mereka bisa jadi pembuka pintu kesejahteraan. Mereka memiliki kekuatan menggerakan roda pembangunan. Hanya kepada mereka, rakyat bisa menitipkan keinginan, kebutuhan dan harapan hidup layak, aman, nyaman dan tertib.

Rakyat tak memiliki banyak pilihan; berangkat ke bilik suara atau tidak sama sekali. Ketidakhadiran mereka merupakan keputusan merugi. Satu suara dukungan menguatkan lahirnya pemimpin rakyat yang amanah. Sedikit berbeda, bila ada calon pemimpin rakyat mencoba merekadaya simpati publik dengan kekuatan lain. Wujudnya, mereka yang bersepakat yang tahu.

Baca juga :  Euforia Meledak Tanpa Petahana

Ingat. Jangan pernah takut memilih karena kota ini membutuhkan keberanian warga menentukan sikap. Kebebasan memilih siapa pun adalah hak. Bebaskan diri  dari provokasi, dorongan permintaan, atau rass ingin mendapat ucapan terima kasih usai memilih. Boleh diingat satu kata, pilihan kita adalah nasib kita karena ada kebutuhan hidup yang dipertaruhkan. (penulis buku Sidoarjo)

 

Komentar

Terkini

Hudiyono
Hudiyono

Jangan Lewatkan