Rabu, 21 Oktober 2020
32.1 C
Sidoarjo
Rabu, 21 Oktober 2020

Kelakar Politik

Opini  :  Catur Divanes

 

AKU masih tidak begitu paham, saat seorang sahabat mengatakan inilah Pilkada paling rumit dan merepotkan. Terlalu banyak aturan yang harus ditaati.  Ada rasa ingin menyela, tapi tak ada celah bicara.

 

Keterbatasan waktu dan aturan protokol kesehatan bisa jadi perintang upaya mendekatkan calon kepala daerah pada pemilihnya. Belum lagi, semua calon bupati dan wakil bupati wajah baru.  Dua di antaranya berasal dari Pasuruan dan Surabaya. Itu kabar dari media on-line dan wikidpr.or.org. Untuk soal domisili,  biarlah itu urusan pembuat kebijakan dan  mengalir tenang selaras dinamika demokrasi. Yang pasti, siapa pun boleh mencalonkan diri tanpa terikat catatan alamat di KTP. Kuncinya rekomendasi partai politik. Unik memang,  bila ada calon kepala daerah tak mendampingi  pemilihnya atau ikut memilih.

 

Apa yang bisa dipetik dari konstelasi politik seperti ini?  Mungkin terlalu sulit dikalimatkan. Namun percayalah rakyat akan tetap memilih; meski tak pernah tatap muka. Warga sudah tahu dari ratusan baliho calon bupati dan wakil bupati  yang terpampang di sepanjang  jalanan kota sampai desa. Semua itu bisa jadi guide kecil saat di  bilik suara.

Baca juga :  Spekulasi  Politik,  Pro Gender

Di situlah, para pemilih bertatap muka kali terakhir  dengan calon kepala daerah melalui gambar. Tidak ada lagi teman bicara atau bersepakat dengan siapa pun. Saat itulah hati nurani yang  bicara. Inilah calon bupati pilihanku. Lima menit di bilik suara, sekitar 1,3 juta orang yang tercatat di DPT  ‘Kontes politik Sidoarjo Idol’  akan menentukan.

Kelakar Politik!

Entah berapa tahun lalu, penulis pernah berada di jagat sepak bola. Saat itu, belasan putra-putra daerah Sidoarjo terpilih sebagai pemain nasional Indonesia; di tim senior dan kelompok umur.  Puluhan pemain potensial Sidoarjo pun jadi adalan klub-klub profesional negeri ini atau mancanegara. Pelatih Deltras di Liga ISL 2011 -2012,  Jorg  Peter  Steinebrunner pernah bercerita pemain lokal Sidoarjo masih banyak yang bagus dan  layak diberi kesempatan bermain di klub kota sendiri.

Baca juga :  Pilkada Sidoarjo Selesai? Tapi Bukan Itu

Pentas Pilkada Serentak 2020, esensinya hampir sama dengan membangun klub berkualitas. Kesebelasan layak tanding perlu didukung pemain bagus; kombinasi pemain muda dan senior demi menjaga keseimbangan tim; dan putra daerah perlu diberi kesempatan jadi ujung tombak utama. Namun mendatangkan pemain lakol daerah lain atau naturalisasi pemain asing;  serta mengontrak pemain andalan dari luar negeri tidak dilarang.

Perlu diketahui! Hasil pemungutan suara 9 Desember 2020 adalah identik melengkapi kekosongan ‘satu pemain’ yang  strategis dan menentukan. Lima ‘pemain utama’ sudah terpilih dan terisi. Mereka adalah pilar penyanggah giat pembangunan Sidoarjo; diantaranya  Jajaran Kepolisian (Polresta), Komandan Distrik Militer (Kodim), Ketua Pengadilan Negeri, Kepala Kejaksaan Negeri dan Ketua DPRD yang telah menjalankan tugas selaras tugas pokok dan fungsinya.

Baca juga :  Muhdlor Ali Termuda di Jatim, di Indonesia Mudhasir Ghani

Satu pemain prioritas tersisa adalah bupati dan wakil bupati.  Keputusan memilih pemain utama ini adalah  rakyat Sidoarjo. Untuk siapakah kepercayaan itu diberikan;  putra daerah atau bukan? Apa pun hasilnya, wajib dihormati. Demokrasi telah membuka ruang bagi siapa pun mengadu konsep berpikir dan mencitrakan diri. Saatnya kita cermati seksama!  Ada hal menarik,  bila tulisan slogan di baliho para calon bupati –wakil Sidoarjo itu disatukan.

Bila ‘diotak-atik’ terselip spirit kerukunan yang tanpa sengaja terwujud. Slogan Bambang Haryo –Taufiqulbar ( nomor urut 1) – Membangun Sidoarjo Lebih Baik;  Gus Muhdlor Ali – Subandi  ( nomor urut 2) —  Jemput Perubahan ; Kelana Aprilianto – Dwi Astutik  ( nomor urut 3) — Sidoarjo Berkelas. Coba kita satukan semua slogan itu;  Lebih Baik  — Jemput Perubahan – (agar) Sidoarjo Berkelas.  Andai kurang pas, janganlah  dimaknai macam-macam karena ini hanya kelakar politik.  (Penulis Buku di Sidoarjo)

 

Komentar

Terkini

Hudiyono
Hudiyono

DKPP Akan Periksa Sembilan Penyelenggara Pemilu Kota Surabaya

Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) akan memeriksa sembilan penyelenggara pemilu di Surabaya terkait pengaduan Novli Bernado Thyssen Ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Jawa...

Jangan Lewatkan

Jaga Harmonisasi Warga, Wali Kota Risma Berikan IMB Gratis ke Seluruh Rumah Ibadah

SURABAYA (Suarapubliknews) – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini terus berusaha menjaga harmonisasi warga Surabaya yang multikulturalisme dengan memberikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) gratis pada...