Rabu, 21 Oktober 2020
32.1 C
Sidoarjo
Rabu, 21 Oktober 2020

Hikmah Pilkada dan Pandemi

Opini Oleh: Catur Divanes

SIDOARJO Rumah Kita. Marilah berharap agenda politik bisa mengalir selayaknya air: menghidupkan ladang-ladang penghasilan, menumbuhkan harapan baru  dan mendinginkan suasana disela pencarian pemimpin amanah. Yakinlah bahwa suara hati rakyat, tak pernah salah. Siapa pun yang terpilih, itulah pemimpin pilihan rakyat.

Pilkada 2020 dipastikan berbeda dengan pesta pemilihan kepala daerah sebelumnya.  Era pandemi Covid – 19 seolah mengubah beragam rencana atau strategi para calon bupati. Bukan rahasia lagi. Para pemilih di Sidoarjo sebagian besar masih ‘tergolong tradisional’. Belum akrab dengan media sosial atau suka berselancar di dunia maya;  mencari informasi tentang siapa dan bagaimana sosok kontestan pilkada.

Larangan kampanye terbuka juga membuat rakyat dan calon pemimpin kehilangan intensitas pertemuan. Tanpa kampanye terbuka seperti Pilkada 2015 lalu, membuat calon bupati dan wakil bupati tidak lagi bebas mengungkapkan janji politik atau berkumpul berbagi keceriaan.

Baca juga :  Dua Tahap, KPU Tetapkan Kandidat Pilkada 2020

 

Hikmah Dibalik Pandemi!

Setiap peristiwa diyakini selalu ada hikmah. Salah satu hikmah larangan kampanye terbuka adalah berkurangnya tebaran  janji – janji politik. Namun jangan berprasangka buruk dulu dengan kata-kata janji.  Adakalanya  ‘Janji’ dibutuhkan untuk menguji rasa saling percaya,  menakar loyalitas antar teman dan mempererat kualitas tali silahturahmi.  Namun juga tidak salah bila ada yang beranggapan,  janji hanyalah rangkaian kebohongan untuk menunda kesepakatan yang tak dipenuhi. Bahkan dijadikan senjata melepaskan diri dari tanggung jawab.

Lalu bagaimana tekait janji – janji politik di arena Pilkada?. Kegagalan seorang sahabat (Don) di Arena Pilkada 2010 bisa jadi renungan.  Ketika terlempar dari dari euforia kemenangan,  keceriaan dan sikap optimis yang biasa membara tiba-tiba padam. Kata-kata bijak dan santun pembakar motivasi lenyap tanpa bekas. Beragam prasangka merebak tanpa ada ujungnya.

Baca juga :  Kelakar Politik

Malam pukul 21.15, Don ngajak ngobrol di Café Hotel Bidhakara Jakarta. Suasana terasa  nyaman dan tak terlihat banyak tamu. Wajahnya masih menyimpan kecewa, saat membuka lembaran cerita.  Atmosfer Pilkada memang unik.  Keinginan dan nafsu meraih kekuasaan bisa membuat hati  buta. Oleh karena itu, jangan sendiri saat ingin bersepakat janji dengan siapa pun.

Semua cerita tentang melimpahnya dukungan publik hanyalah bagian jurus daya pikat. Rakyat sejatinya bukanlah boneka. Saat di dalam bilik, pilihan mereka bisa berubah dalam hitungan detik. Entah apa penyebabnya, terlalu sulit diurai dalam kata. Namun percayalah! Perkenalan sesingkat apa pun sangatlah berharga dan bisa menguatkan empati atau simpati. Selanjutnya, masyarakat akan menilai dengan caranya sendiri.

Baca juga :  14 MWC NU Sidoarjo Belum Tentukan Sikap di Pilkada 2020

Percaya atau tidak. Kegagalan juga telah membuahkan yang lain, yakni tumbuhnya rasa ingin menikmati hidup tanpa terjebak dalam lingkaran ketidakpuasan. Pesta demokrasi ini tanpa sengaja telah menuntun saya kembali pada titik balik kesadaran. Ada rasa yakin bila harta yang terkumpul setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun ada hak rakyat yang mungkin belum sempat terbagikan. Mungkin, kala itu tangis dan jerit hati mereka tak terdengar nyaring. Ketamakan dan keserakahan benar-benar membutakan atau menulikan telinga ini. Belajarlah dari kegagalan dan masih banyak hal lain yang lebih bermanfaat. (Penulis Buku di Sidoarjo)

 

 

 

 

Komentar

Terkini

Hudiyono
Hudiyono

Jangan Lewatkan