Selasa, 18 Mei 2021
31 C
Sidoarjo
Selasa, 18 Mei 2021

Setia Pada Core Business, Cara Pengusaha Bertahan di Tengah Pandemi

- Advertisement -
- Advertisement -

Berbisnis di tengah pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi para pelaku bisnis, tak terkecuali bisnis kekinian seperti coworking space serta bisnis fashion via online.

Kuswana Mandiri Co-Founder serta CEO Garasi Cowork Space mengatakan, bisnis coworking space yang ia geluti bahkan harus banting setir karena pandemi menghantam Indonesia pada Maret 2020.

Ia bercerita, saat akan menggelar soft launching Garasi Coworkspace pada April 2020, ia sudah terlebih dahulu keliling di banyak Cafe untuk melakukan event activation sejak Januari.

“Maret Covid-19 hadir di Indonesia. Sudah siap semuanya, eh Covid. Belum apa-apa udah Covid. Ini muncul pertanyaan, muncul bingung. Opening kapan, tim ini diapain, lalu kita ngapain, kelanjutannya bagaimana?” kata Kus yang juga Dewan Pembina HIPMI Surabaya ini.

Ia mengaku, kebingungan ini juga terjadi di banyak pelaku usaha co working space lain di Indonesia. Beberapa memilih bertahan dengan buka serta mematuhi protokol kesehatan, dengan menyilang-nyilang kursi.

“Tapi tetap saja, sedikit yang datang. Akhirnya banyak yang tutup sementara. Ada juga yang tutup selamanya,” katanya dalam webinar TalkSS bertajuk Bisnis Kekinian di Tengah Pusaran Pandemi pada Kamis (2/7/2020) yang dimoderatori Eddy Prasetyo Manager New Media Suara Surabaya.

Akhirnya, dia serta tim sepakat untuk bergerak di bidang webinar. Ia mengatakan, webinar yang menjadi tren ialah peluang saat pandemi berlangsung.

“Webinar jadi tren. Orang mencari sumber pengetahuan, nyari jalan keluar. Orang kan bingung. Mau nyari sesuatu, tapi ini takut kemana-mana,” katanya.

Ia mengaku, Garasi sudah melakukan 60 kali webinar dalam rentang Maret-Juni 2020 dengan jumlah total peserta 2.100 orang. Bahkan, pernah dalam 7 hari ia menggelar 14 kali webinar.

“Garasi memilih keluar dari core bisnis co work, ke webinar. Ini tidak ada dalam plan bussiness ini. Bulan depan (Agustus) bisa lanjut coworking space, Garasi community, perlahan terbentuk komunitasnya,” katanya.

Ia mengatakan, tren webinar akan terus berlanjut, meski pandemi pada suatu saat berakhir. Sebab, saat ini masyarakat sudah terbiasa dengan belajar secara online.

“Webinar prospeknya masih tinggi. Bayangin temen-temen di Sulawesi, di Maluku, misalnya. Apakah di sana ada narsum gitu. Biasanya mereka harus datang ke Surabaya, ke Jakarta, untuk datang seminar offlinenya. Selama ini, itu belum bisa ke reeach out. Ini sangat memungkinkan sekali. Ini juga cukup banyak peluangnya. Misalnya, kita gak perlu nyewa meja-kursi, terus gak perlu ngasih konsumsi. Orang akan sudah terbiasa dengan belajar online nanti setelah pandemi selesai,” jelasnya.

Di sisi lain, Richard Changay Founder PAHI yang bergerak di bidang fashion serta lifestyle mengatakan, bisnis di tengah pandemi harus mampu menjawab kebutuhan konsumen.

Ia menyontohkan mengenai kebiasaan masyarakat yang gemar update Instastory.

“Show off gak terbatas offline. Dengan ada media sosial saat ini, itu bisa kita show off dengan online. Sekarang paket (beli online) datang, bisa di instastory. Wah thank you barang sudah datang. Berarti, kita perlu tambah di presentasi produk. Misal ada thank you card. Kayak ada terima kasih dari produk ke mereka. Kita bikin sedikit kisah tentang produknya. Kita cetak thank you card, gak terlalu mahal. Tapi berhasil jadi pemanis,” katanya.

Kuswana Mandiri menambahkan, pada masa pandemi, pengusaha harua mau serta aktif menambah ilmu untuk mengembangkan bisnisnya.

“Seorang pengusaha tidak boleh berhenti belajar. Harus terus menambah ilmu,” katanya. (bas/bid/rst)

Sumber »

- Advertisement -
Terkini
- Advertisement -
Related news
- Advertisement -